REOG

Seni Pertunjukan Reog Ponorogo merupakan tarian yang dikemas menjadi seni pertunjukan sendratari. Reog menampilkan penari topeng menyerupai harimau berukuran besar dengan hiasan bulu ekor merak (Dadak Merak) yang melambangkan sosok raja hutan Lodaya. Selain itu, ada tokoh lain seperti Kelono Sewandono berperan sebagai raja, Bujangganong berperan sebagai patih atau panglima perang, Warok yang berperan sebagai ksatria sakti, serta Jathil sebagai prajurit tangguh yang menunggang kuda. Pertunjukkan semakin hidup dengan kehadiran penyenggak (penyanyi) serta pengrawit yang berperan mengiringi jalannya pertunjukan Reog.
Reog dimainkan dalam berbagai acara, seperti saat upacara tolak bala, acara bersih desa, pernikahan, hari besar Islam, hari besar nasional, khitanan, tasyakuran, pesta rakyat, dan penyambutan tamu. Lebih dari sekedar tontonan, Reog merupakan seni pertunjukan yang sarat dengan nilai, makna, dan fungsi sosial bagi masyarakat Ponorogo.
Dalam skala besar, pertunjukan Reog diselenggarakan dalam rangkaian Grebeg Suro yang jatuh setiap tanggal 1 Muharram (1 Suro), melalui dua agenda utama, yaitu Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) dan Festival Reog Remaja (FRR). Sejak tahun 2021, FNRP secara konsisten masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN), bahkan pernah meraih predikat sebagai event terbaik urutan kedua dari 110 event nasional.
Kajian ilmiah menyebutkan bahwa Reog Ponorogo telah berusia lebih dari dua abad. Hal ini dapat dilihat dari naskah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III Ing Surakarta, Pupuh di Serat Centini.
Transmisi pengetahuan dan keterampilan Reog dilakukan melalui pendidikan formal dan non formal. Pada pendidikan formal, Pemkab Ponorogo telah mengatur melalui Peraturan Bupati Ponorogo Nomor 35 Tahun 2024 tentang Pendidikan Ekstrakurikuler Reog Ponorogo di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara pada pendidikan non formal, transmisi pengetahuan dan keterampilan dilakukan melalui sanggar.
Sebagai habitat asli Reog, Ponorogo bukan hanya sekadar rumah bagi komunitas seni, tetapi juga tempat tumbuh kembangnya tradisi secara alami dengan beragam faktor pendukung. Reog juga bersifat inklusif, karena dapat dimainkan oleh siapa saja, termasuk perempuan maupun penyandang disabilitas.
Menurut hasil uji petik PM3KI tahun 2022 dan visitasi Panselnas UCCN 2024, terdapat 365 paguyuban reog dengan anggota masing-masing 60 orang. 24.840 tenaga kerja turut menggerakkan roda perekonomian daerah, menghasilkan dengan omzet tahunan sebesar Rp. 5,4 miliar. Selain itu, sebanyak 273 seniman kriya juga terlibat dalam ekosistem ini, dengan omzet tahunan mencapai Rp. 6,4 miliar.
Reog Ponorogo yang merupakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO melalui penetapan dari UNESCO dalam sesi sidang ke-19 di Paraguay, pada 3 Desember 2024.





