Diberi Bantuan Dana Kesenian, Sebulan Sekali Desa Wajib Reyogan

By on June 15, 2019 at 6:07 am 0 3521 Views

REYOGAN atau menggelar tari reyog di desa akan menjadi salah satu penilaian kinerja desa. Penyelenggaraan kesenian asli Ponorogo ini bakal menjadi kewajiban setiap bulanan demi meningkatkan gairah pelestarian seni reyog di bumi kelahirannya sendiri.

“Mulai bulan depan (Juli) ada ketentuan dari saya (Bupati Ponorogo), agar semua desa menggelar reyog secara serentak di hari yang sama. Mungkin tanggal 11 tiap bulannya. Ini untuk mengetahui kinerja kesenian dari masing-masing desa yang pernah mendapat bantuan dana untuk kesenian reyognya,” kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Jumat (14/6/2019).

Para kades yang baru saja dilantik oleh Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni di Pendopo Agung Pemkab Ponorogo, Jumat (14/6/2019).

Gelaran reyog serentak ini akan menjadi bukti bahwa bantuan dana kesenian yang diminta warga kepada pemerintah telah mampu membuahkan hasil yang nyata. “Kalau secara spj (surat pertanggungjawaban atas bantuan yang diterima), secara administrasi sudah ada reyognya, atau gamelannya atau lainnya sesuai permohonan yang diajukan. Ini bukan soal keuangan, tapi soal pelestariannya,” ucapnya.

Keberadaan peralatan memang membuat pertanggungjawaban pemakaian dana sudah beres. Namun, kata Bupati Ipong, pengembangan seni reyog dipantaunya masih stagnan. Hampir tidak ada perkembangan sama sekali.

“Kok yang main reyog, ya itu-itu saja. Katanya Ponorogo ini tempat asalnya reyog. Tapi grup yang tampil dalam berbagai kesempatan tidak lebih dari 100 grup reyog. Pembarong tidak labih dari 40 orang. Bantuan untuk permohonan reyog atau melengkapi alatnya sudah dipenuhi tapi kondisinya seperti apa. Apakah bantuan itu dimanfaatkan dengan baik atau tidak,” tuturnya.

Selanjutnya, kegiatan reyogan serentak ini akan dipantau. Bila dari 307 desa dan kelurahan masih ada yang tidak reyogan maka bisa ditemukan akar masalahnya. Kalau memang kesulitan tidak ada pemainnya, maka akan diminta untuk mendidik pemain di desa masing-masing. Diharapkan akan muncul langkah-langkah untuk memunculkan jathil, pembarong, penyompret, pengendang dan lainnya.

Dijelaskannya, tidak reyogan tidak akan berujung pada sanksi disiplin seperti pencopotan atau pemecatan. Tapi, hal ini menunjukkan kinerja kesenian dari masing-masing desa. Kalau tidak bisa menunjukkan kinerja yang baik, maka akan ada program di desa yang tidak reyogan yang akan dikurangi.

“Inilah yang akan membedakan penilaian kinerja satu desa dengan desa yang lainnya. Akan masuk penilaian terhadap desa,” ungkapnya sambil menyatakan hal ini juga menjadi langkah untuk meningkatkan daya tarik wisata Ponorogo.

Bantuan dana kesenian ini mencapai sekitar Rp 1 miliar untuk satu tahun. Bantuan ini diberikan kepada sekitar 50 desa dalam tahun tersebut. Memang tidak setiap tahun ada bantuan dana kesenian. Bantuan ini sudah berjalan sekitar lima tahun ini. Diperkirakan seluruh desa di Ponorogo telah menikmati bantuan ini sehingga seharusnya seluruh desa bisa ikut dalam gelaran serentak reyog tiap bulannya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *