Kabar Dana Rp 1 M Untuk Reyogan Serentak, Bupati Ponorogo : Itu Hoax

By on July 19, 2019 at 8:00 pm 0 265 Views

BUPATI Ponorogo Ipong Muchlissoni menegaskan bahwa kabar tentang pembagian dana Rp 1 miliar untuk 307 desa demi menggebyak reyog serentak satu bulan sekali adalah hoax alias berita bohong. Kabar ini sama sekali tidak benar sebab untuk gebyak reyog serentak tidak ada anggaran dari pemerintah.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat memberikan penjelasan terkait berita hoax dana Rp 1 M untuk gebyak reyog serentak usai Pelantikan Kades Pager di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Jumat (19/7/2019).

“Saat ini tidak ada anggaran dari pemerintah kabupaten (Ponorogo) untuk gebyak reyog serentak. Entah nanti (tahun depan). Kalau ada berita yang menyatakan bahwa ada anggaran sebesar Rp 1  miliar dan anggaran itu dibagi kepada 307 desa dan kelurahan maka jumlah dana yang diterima tiap desa sedkit sekali, maka saya nyatakan berita itu tidak benar. Itu Hoax,” ungkap Bupati Ipong di sela sambutan Pelantikan Kades Pager di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Jumat (19/7/2019).

Yang benar, lanjutnya, dana Rp 1 miliar tersebut adalah anggaran 2019 untuk membantu program kesenian, program pengadaan reyog dan gamelannya untuk desa-desa terpilih. Anggaran ini selalu ada setiap tahun sejak tahun 2015 lalu.

Dirincinya, tahun 2019 dana pengembangan kesenian ini besarnya Rp 1 miliar, tahun 2018 sebesar Rp 500 juta, tahun 2017 sebesar Rp 1,8 miliar dan 2016 sebesar Rp 2 miliar.

“Jadi dana yang ada bukan untuk gebyak reyog tapi membantu desa-desa terpilih dalam pengembangan kesenian reyog yang didasarkan pada proposal yang diajukan atau ada permintaan dari masing-masing desa,” jelasnya. Sejauh ini, sudah ada 237 desa yang telah mendapatkan bantuan untuk pengembangan kesenian reyog ini.

Untuk gebyak reyog, kata Bupati Ipong, desa bisa melakukan berbagai daya upaya yang tidak bertentangan dengan prosedur dan hukum. “Pakai APBDes bisa, pakai swadaya masyarakat juga boleh,” ujarnya.

“Apakah ini memberatkan masyarakat? Insya Allah tidak. Pada tahun 1970-an, tahun 1980-an, di setiap desa di Ponorogo ini mampu menggebyak reyog padahal tidak ada anggaran. APBDes masih sangat kecil saat itu,” tuturnya.

Gebyak reyog di Kelurahan Surodikraman pada 11 Juli lalu menampilkan penari jathil cilik sebagai bentuk regenerasi kesenian reyog.

Menurutnya, gebyak reyog serentak sekaligus pembuktian apakah desa benar-benar cinta kepada seni luhur bangsa, warisan Ponorogo, yang disebut reyog Ponorogo.

Himbauan untuk bisa mengelar reyog serentak ini tentu ada kosekuensinya. Pelaksanaan gebyak reyog serentak menjadi salah satu penilaian atas kinerja desa dan berkaitan dengan program yang akan diberikan kepada desa.

“Ketika ada desa yang tidak memberikan perhatian kepada pengembangan budaya apalagi ini warisan leluhur, seperti reyog ini, maka kita juga akan mempertanyakan sejauh mana visi misi pembangunannnya terhadap visi misi Kabupaten Ponorogo yang terkenal sebagai kabupaten budaya,” ungkapnya.

Ditegaskannya, program gebyak reyog serentak ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali, memelihara dan meregenerasi budaya leluhur bangsa, yaitu Reyog Ponorogo. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *