Masuki Tahun Baru Hijriyah, Berharap Ponorogo Makin Penuh Berkah

By on August 31, 2019 at 10:27 pm 0 236 Views

BERKAH yang melimpah di segala bidang kehidupan menjadi harapan utama atas pergantian tahun hijriyah kali ini. Kirab Pusaka dan Buceng Purak sebagai tradisi menyambut datangnya Muharam di Ponorogo membawa asa untuk kondisi yang lebih baik di tahun yang baru ini.

Kirab pusaka dan buceng purak atau berebut tumpeng menjadi tradisi yang terus dilaksanakan di Ponorogo untuk menyambut datangnya Suro atau Muharam. Sabtu (31/8/2019) sore, ribuan warga Ponorogo tampak antusias menyaksikan dan mengikuti kedua acara yang memuncaki gelaran Grebeg Suro tahun ini.

Ketiga pusaka saat dikirab dari makam Bathoro Katong menuju Kota Tengah.

Kirab pusaka merupakan kegiatan kilas balik sejarah Ponorogo. Yaitu saat wilayah yang semula bernama Kerajaan Wengker ini memindah pusat pemerintahannya. Boyongan ini terjadi pada abad ke-15 lalu. Yaitu dari Pusat Pemerintahan Kota Lama yaitu Kota Timur atau Kutho Wetan yang kini merupakan Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan menuju Kota Tengah atau Kutho Tengah yang merupakan Pusat Pemerintahan Kabupaten Ponorogo saat ini.

Perpindahan ini dilaksanakan pada 1 Suro 1953 Saka atau 1 Muharam 1441 H, tepatnya setelah matahari berangsur jatuh ke barat atau masuk 1 Suro, Sabtu (31/8/2019) sore.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat menyapa warga di rute yang dillewatinya.

Perpindahan pusat pemerintahan Kadipaten Ponorogo ini ditandai dengan sebuah prosesi penuh nuansa mistis dan religi, Kirab Pusaka. Kirab pemerintahan ini memboyong tiga pusaka kebanggaan Ponorogo, yaitu Angkin Cinde Puspito, Songsong Tunggul Wulung dan Tumbak Tunggul Nogo.

Dalam prosesi kirab, ketiga pusaka dibawa oleh sejumlah senopati yang diperagakan oleh para lurah, camat serta kepala dinas. Mereka mengenakan busana tradisional Jawa lengkap dengan keris di punggung yang berarti mereka berjalan dalam damai. Pasukan yang memiliki sebutan bergada pusaka ini berbaris penuh khidmat sambil membawa ketiga senjata andalan mereka.

Para bergada memasuki PAseban Aloon-Aloon Ponorogo untuk melaksanakan jamasan untuk pusaka yang mere bawa.

Barisan berikutnya adalah pasukan putri yang diperagakan oleh sejumlah siswi SMP dan SMA di Ponorogo. Dengan busana basahan mereka juga ngombyongi atau turut serta mengawal senjata pusaka Ponorogo.

Di belakangnya barulah rombongan kereta kuda. Sejumlah pejabat mulai dari Bupati, Sekda hingga pimpinan DPRD serta Kepala Dinas turut serta menaiki kereta kuda masing-masing. Mereka ini merupakan perlambang pejabat yang juga turut bedhol ke kota tengah.

Jamasan atau mensucikan pusaka menjadi salah satu simbol pembersihan diri dan pikiran agar lebih maju di masa mendatang.

Sesampai di paseban atau panggung utama, ketiga pusaka kemudian dijamasi atau dimandikan oleh sang Bupati dan akhirnya disemayamkan di Pringgitan atau Kediaman Bupati. Nuansa tradisi nan magis serta budaya begitu lekat pada kegiatan ini.

Selain Kirab Pusoko, kirab ini juga menampilkan mobil hias dan drum band sekolah. Hal ini menjadi magnet yang membuat grebeg suro semakin menarik minat warga.

Yang tidak kalah menarik adalah buceng purak atau rebutan tumpeng berisi makanan dan palawija yang di depan paseban. Warga yang sudang menunggu sejak siang hari tampak begitu antusias memperebutkan makanan yang disediakan. Mereka percaya, dengan memperoleh sekelumit makanan saja, bisa membuat hidup mereka setahun ke depan lebih berkah.

Warga berebut isi buceng yang disiapkan di halaman Paseban Aloon-Aloon Ponorogo.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni usai kirab pusaka menyatakan, prosesi kirab pusaka menjadi bagian puncak dari grebeg suro. Sebagai sebuah tampilan budaya, kirab pusaka mampu menyedot perhatian warga dan wisatawan.

“Kita melihat warga begitu antusias dalam mengikuti kegiatan selama Grebeg Suro ini. Alhamdulillah kegiatan hari ini bisa berjalan lancar. Juga berbagai acara yang kita gelar sepanjang 11 hari terakhir dalam rangka hari jadi ke-523 Kabupaten Ponorogo dan Festival Budaya Bumi Reyog bisa berjalan lancar. Kita melihat masyarakat bersuka ria, bergembira dan bersyukur,” ujar Bupati Ipong.

Berbagai kegiatan yang digelar, imbuh Bupati Ipong, adalah bentuk rasa syukur atas macam-macam nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada seluruh lapisan masyarakat Ponorogo. Dengan bersyukur, nikmatnya akan bertambah.

“Harapannya, di tahun yang baru nanti Ponorogo lebih diberkahi Allah. Semoga seluruh masyarakat rejekinya tambah banyak, jalannya pemerintahan lebih lancar, baik dan maju. Itu harapan kita semua menyongsong tahun yang akan datang,” tuturnya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *