Panti Jompo Viral, Kadinsos Ponorogo : Pakai Cor Semen Dilapis Kasur Agar Mudah Dibersihkan

By on November 21, 2019 at 1:15 pm 0 1207 Views

TERNYATA ada alasan tersendiri bagi pengelola Panti Dhuafa Lansia di Kecamatan Jetis, Ponorogo, menggunakan cor semen dengan lapisan kasur busa dan perlak sebagai tempat tidur para lansia, yang sempat menjadi viral. Alasan tersebut dinilai masuk akal dan cukup manusiawi.

Kepala Dinas Sosial-Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Kabupaten Ponorogo Supriyadi, Kamis (21/11/2019) kepada ponorogo.go.id mengatakan, pengelola panti tersebut, Rama, mengaku penggunaan cor semen dengan kasur busa dan perlak ini adalah cara agar ‘tempat tidur’ ini lebih mudah dibersihkan.

Supriyadi mengatakan, pertengahan 2019 lalu ia sudah mengetahui penggunaan tempat tidur cor semen berlapis kasur busa ini. Saat itu ia sedang melakukan kunjungan ke beberapa tempat, termasuk panti jompo yang dikelola Rama tersebut. Ia juga sudah menanyakan alasan pengelola memakai cor semen sebagai tempat tidur.

“Saat itu ia menyatakan hal itu agar ia dan pengurus panti lainnya lebih mudah ketika harus melakukan pembersihan. Tempat tidur cor semen itu hanya untuk lansia yang sudah tidak bisa beraktifitas normal sehingga kadang, maaf, harus buang air di situ (tempat tidur). Apalagi di panti tersebut jumlah pengurusnya terbatas maka cukup masuk akal dan manusiawi kalau pengelola punya pemikiran seperti itu,” terang Supriyadi.

Meski tempat tidurnya dari cor semen, tapi pengelola masih melapisinya dengan kasur busa dan perlak. “Jadi ya tidak langsung tidur di atas cor begitu lah. Dengan adanya kasur dan perlak ya kan masih layak. Lansia-lansia itu tidak begitu saja tidur di atas cor semen tanpa alas,” ujarnya.

Dikatakannya, panti jompo tersebut adalah satu dari 42 lembaga sosial yang menjadi binaan Dinsos-P3A Kabupaten Ponorogo. Setiap tahun ada dana lembaga-lembaga panti jompo atau panti asuhan tersebut menerima bantuan dana yang besarnya bervariasi menurut jumlah warga asuhannya. Ada yang sebesar Rp70 juta dan ada pula yang sampai Rp 150 juta setiap tahunnya.

“Pemkab dalam hal ini dinsos bukan sekedar tahu, tetapi juga mengawasi dan membantu operasional panti. Panti juga sudah membuat MoU dengan RSUD Harjono, Dinkes dan Baznas dalam hal penanganan kesehatan klien,” pungka Supriyadi. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *