Melawan Corona, Puskesmas di Ponorogo Mbendhe ke Sampai Pelosok Desa

March 22, 2020 22:30 WIB 396 Views

SEMANGAT melawan corona dari para tenaga kesehatan di puskesmas-puskesmas di Ponorogo patut diacungi jempol. Mereka mencoba membangun kesadaran masyarakat dengan ‘siaran keliling’ sampai ke pelosok desa.

Seperti yang terlihat pada Minggu (22/3/2020). Dua orang awak kerja yang terdiri dari seorang pengemudi dan seorang ‘penyiar dadakan’ tampak mengendarai mobil operasional Puskesmas Badegan yang telah ‘dimodifikasi’. Mobil penumpang itu telah dipasangi pengeras suara di atasnya.

Puskesmas Badegan, Ponorogo, mbendhe alias siaran keliling jelaskan seluk-beluk virus corona sampai ke pelosok.

Mereka ‘mbendhe‘ alias siaran berkeliling di hampir seluruh bagian kecamatan, termasuk di desa-desa pelosok yang jalannya terjal dan susah sinyal. Bahkan sampai ke lokasi dekat bencana longsor Dayakan.

Di sepanjang jalan sang penyiar menerangkan seluk-beluk virus corona alias corona virus disease 2019 atau covid-19. Mulai dari apa itu virus corona, cara penularan, cara mencegah penularan, pola hidup bersih sampai ajakan untuk melaporkan bila ada pendatang dari luar daerah dan daerahnya terjangkiti corona. Terlebih jika orang itu ada gejala batuk, flu, demam tinggi, nyeri telan dan sesak napas.

“Virus itu barang tidak jelas, maksudnya tidak tampak oleh mata. Maka harus dijelaskan kepada masyarakat tentang virus ini. Sebenarnya di siaran televisi sudah ada kan, di internet juga banyak. Tapi warga kita kan belum tentu terjangkau oleh siaran atau internet, maka pakai corong seperti ini adalah pilihan untuk menyampaikan informasi sejelas-jelasnya soal corona ini,” jelas Kepala Puskesmas Badegan Agung Nugroho kepada ponorogo.go.id.

Menurut sang penyiar dadakan, semua warga dari seluruh lapisan usia, pendidikan, agama dan pekerjaan wajib mengetahui dan memahami virus ini. Tentunya, agar langkah-langkah pencegahan penularannya bisa dipahami dengan baik, bahkan oleh warga di ujung desa sekalipun.

“Dengan begini kita bisa menyiarkan dsngan bahasa yang mereka pahami. Bahasa Jawa halus ataupun ngoko bisa saja. Juga bisa interaktif kalau memang dibutuhkan. Kan kita bisa berhenti sewaktu-waktu,” tutur Agung.

Sampai kapan ia dan tim harus berkeliling Agung belum tahu. Ia hanya memastikan akan terus menyampaikan dan menerangkan perihal corona ini kepada masyarakat luas di wilayahnya. Tentu agar corona tak mengambil jiwa dari warga-warga di desa. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *