BPNT Ponorogo Serap Produk Lokal, dari Beras Sampai Sayuran

BANTUAN Pangan Non-Tunai (BPNT) dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Kabupaten Ponorogo menjadi cara untuk memberdayakan para petani dan peternak lokal. Ini setelah instansi terkait berupaya mengambil sumber-sumber pangan dari wilayah sendiri.

Kepala Dinsos-P3A Kabupaten Ponorogo Supriadi, Senin (14/9/2020) mengatakan, dalam pelaksanaan BPNT di Ponorogo, pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan untuk mendapatkan bahan-bahan pangan. Bahan pangan yang ditebus oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) adalah bahan pangan yang dihasilkan oleh para petani dari Ponorogo sendiri.

Sayuran di Desa Krisik, Pudak, yang sedang dikemas untuk penyaluran BPNT

“Untuk beras, kita sudah menyalurkan sekitar 1.300 ton per bulan. Semuanya panenan petani Ponorogo. Telur sudah semuanya dari Ponorogo. Kita ini butuh telur sekitar 102 ton per bulan. Tapi produksi peternak di Ponorogo baru sekitar 70 ton, jadi ya masih kurang,” terang Supriadi.

“Maka sekarang, yang bisa didapat dari BPNT bertambah sayuran. Dengan begitu, BPNT di Ponorogo ini sudah melakukan peneyrapan produk lokal,” ungkap Supriadi sambil menyebutkan bahwa BPNT denan produk sayur ini semantara direalisasikan di Kecamtan Mlarak, Pulung, Sukorejo dan Sooko.

Sayuran di Desa Krisik, Pudak, yang sedang dikemas untuk penyaluran BPNT

Dengan penyerapan ini, lanjut Supriadi, maka dana yang disalurkan oleh pemerintah pusat kepada KPM tidak lagi keluar Ponorogo. Dana tersebut tersalur ke petani dan peternak sebagai penyedia bahan pangan yang diperlukan dalam pelaksanaan BPNT.

Paling mutakhir, pada pekan lalu pihaknya telah berkoordinasi dengan para petani sayuran di Kecamatan Pudak. Mereka telah sepakat untuk bekerja sama dalam pelaksanaan BPNT ini dengan memasukkan sayuran sebagai bahan pangan yang bisa dinikmati KPM.

“Artinya, BPNT tidak hanya menjadi membantu ekonomi KPM yang notabene warga tidak mampu, tetapi juga turut menggerakkan ekonomi masyarakat Ponorogo, khususnya petani penyedia bahan pangan tersebut,” pungkas Supriadi. (kominfo/dist)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*