Larung Tumpeng Besar ke Tengah Telaga Ngebel, Simbol Doa dan Rasa Syukur
TELAGA Ngebel setia menunggu rangkaian prosesi Grebeg Suro di Ponorogo setiap tahun. Larung Sesaji dan Risalah Doa selalu berlangsung di telaga seluas 160 hektare itu. Tumpeng besar berisi beras merah lebih dulu diarak keliling telaga sebelum dilarung.

Dalam arak-arakan itu juga terdapat tumpeng hasil panen untuk sedekah bumi dan sejumlah tumpeng nasi berlaukkan ingkung ayam yang hendak dipurak (diperebutkan). Seperti tahun-tahun sebelumnya, kawasan dermaga Telaga Ngebel penuh sesak pengunjung bersamaan Larung Sesaji dan Risalah Doa, Minggu (7/7/2024).
Bupati Sugiri Sancoko dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Ponorogo tampak berada di deretan undangan. Mereka disuguhi tari Balebatur sebelum acara inti larungan. “Larung sesaji bukan sekadar menenggelamkan hasil bumi dari olah pertanian ke tengah telaga. Melainkan sebagai bentuk doa dan rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa selama ini,” kata Kang Bupati –sapaan Bupati Sugiri Sancoko.
Hujan deras yang mengiringi Larung Sesaji dan Risalah Doa juga pertanda sebuah keberkahan. Kang Bupati berharap daerah yang dipimpinnya selalu mendapat keberkahan. “Hujan adalah berkah dari Allah, semoga sedekah ini membawa berkah untuk kita semua,” harapnya.

Larung Sesaji dan Risalah Doa terbukti mampu menjadi daya tarik pengunjung Telaga Ngebel. Acara semakin meriah dengan pertunjukan beragam kesenian. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo selama ini juga menambah pesona Telaga Ngebel dengan fasilitas air mancur menari dan perahu wisata. (tim kominfo)