Resmikan Museum di Desa Bedingin, Bupati Sugiri Disuguhi Tarian Jathil Reog Sepuh
MUSEUM lebih dulu berdiri di Desa Bedingin Kecamatan Sambit, Ponorogo. Koleksi yang ada mampu menggambarkan sejarah peradaban manusia dengan memajang alat-alat pertanian, perkakas rumah tangga, maupun ragam pusaka sesuai masanya dulu.

PERADABAN : Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko meresmikan museum di Desa Bedingin Kecamatan Sambit, Sabtu (10/8/2024).
Bupati Sugiri Sancoko saat meresmikan museum di Bedingin, Sabtu (10/8/2024), langsung teringat dengan proyek besar Monumen Reog dan Museum Ponorogo (MRMP) di Sampung yang sekarang ini sedang berproses. “Langkah Pemdes (Pemerintah Desa) Bedingin mendirikan museum sudah tepat. Museum merupakan salah satu simbol tingkat kemajuan dan peradaban suatu bangsa,” kata Kang Bupati –sapaan Bupati Sugiri Sancoko.
Kang Bupati mencontohkan Turki, Italia, dan Jerman yang mampu menyusun sejarah peradaban bangsanya dengan baik serta rapi. Museum di tiga negara itu bukan sekadar gudang penyimpanan benda kuno, melainkan menjadi tempat edukasi dan pelestarian budaya. “Membangun peradaban itu tidak bisa langsung jadi dan membutuhkan waktu panjang,” terangnya.
Pun, peradaban di Indonesia terbangun mulai era Nusantara. Begitu pula Ponorogo berdiri sejak zaman Kerajaan Wengker yang memiliki derajat kebudayaan yang adiluhung. “Kalau mau ditarik lebih lama lagi, ada budaya manusia purba zaman Mesolitikum dengan temuan alat keperluan sehari-hari dari tulang di Gua Lawa yang diberi nama Sampung Bone Culture,” jelas Kang Bupati.
Ketika datang ke Desa Bedingin, Kang Bupati disambut dua penari jhatil lanang yang usianya sudah lebih dari 60 tahun. Kedua penari itu adalah pelestari kesenian reog sepuh. Keberadaan museum dan pelestarian kesenian menjadi bukti kepedulian warga Bedingin dalam merawat nilai serta kebudayaan. ”Mudah-mudahan anak cucu kita kelak bisa menceritakan jati diri dengan memahami asal usul mereka. Kalau dalam terminologi sufistik bisa memahami sangkan paraning dumadi,” ungkap Kang Bupati.

Masih kata Kang Bupati, bukti material hasil budaya dan material alam yang mendukung perjalanan sejarah peradaban Ponorogo bakal melengkapi koleksi MRMP. Tanpa kecuali, literatur reog sepuh dan situs Sirah Keteng d Bedingin hingga era berdirinya kerajaan Hindu, Budha, serta kerajaan Islam.
“Dapat menjadi wahana edukasi dan pelestarian budaya, sekaligus wahana pariwisata,” pungkasnya. (tim kominfo)