Warga Tunagrahita di Karangpatihan Dapat Uang Berkala dengan Karya Batik Ciprat

KEMAMPUAN intelektual dan kognitif boleh di bawah rata-rata manusia normal, namun seorang tunagrahita harus tetap berdaya. Para warga tunagrahita di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo terbukti mampu berkreasi menciptakan batik ciprat yang khas. 

FOTO: DOKUMEN DESA KARANGPATIHAN

“Pesanan datang dari hampir seluruh pulau di Indonesia. Pembeli bukan hanya dari kalangan penyuka batik, tapi karena peduli terhadap para tunagrahita,” kata Kepala Desa Karangpatihan Eko Mulyadi, Selasa (8/10/2024). 

Corak setiap karya batik ciprat itu selalu berbeda. Warga tunagrahita secara spontan mencipratkan pewarna di atas selembar kain. Kendati ada peran pendamping, mereka kerap menghasilkan karya batik yang ekspresif dan unik. 

Eko Mulyadi menyebut batik ciprat karya warganya yang berkebutuhan khusus itu pernah tampil di berbagai peragaan busana. Pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo, medio Agustus lalu, batik ciprat made in Karangpatihan juga dipamerkan. “Kami selama ini memasarkan melalui marketplace dan website Batik Ciprat Karangpatihan,” terangnya. 

Setiap lembar kain batik ciprat dibanderol dengan rentang harga Rp 175 ribu hingga Rp 180 ribu. Dari nominal penjualan itu, para perajin mendapat porsi 30 persen. Sisanya dipakai menutup biaya produksi dan sebagian lagi untuk membantu warga tunagrahita lainnya. “Ini merupakan salah satu program Catur Karsa yang kami lakukan sejak 2013,” ungkap Eko Mulyadi. 

Catur Karsa adalah upaya Pemerintah Desa Karangpatihan untuk meningkatkan kualitas hidup para tunagrahita. Pihaknya berusaha agar penyandang disabilitas intelektual itu memiliki pendapatan harian, bulanan, triwulan, serta tahunan melalui  berbagai kegiatan produktif. “Untuk memberdayakan para tunagrahita. Alhamdulillah sekarang mereka sudah dapat mencari uang sendiri, membiayai hidup sehari-hari, bahkan  menyekolahkan anaknya,” ujar Eko. (tim kominfo)