Wong Ponorogo Bangga Reog Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

PUBLIK menyambut antusias keberhasilan Reog Ponorogo masuk daftar Intangible Cultural Heritage UNESCO. Sebanyak 28 grup reog dengan 30 dadak merak tampil kolosal di depan Paseban Alun-Alun Ponorogo, Minggu (22/12/2024). 

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

“Mereka tampil secara sukarela karena perasaan bangga setelah reog mendapat pengakuan dunia,” kata Oki Widyanarko, kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Selasa (24/12/2024). 

Menurut dia, para seniman reog di Ponorogo ingin tampil lebih karena pertunjukan kolosal itu terhubung secara virtual dengan  pentas reog dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan belahan dunia seperti Malaysia, Korea Selatan, dan Australia. Pun, Kementerian Kebudayaan secara bersamaan menggelar event Rayakan Budaya Indonesia (Raya) menandai keberhasilan tiga Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia (Reog Ponorogo, kolintang, dan kebaya) masuk daftar Intangible Cultural Heritage UNESCO.

“Ponorogo adalah cikal bakal dan asal muasal reog. Kebanggaan masyarakat Ponorogo terhadap kesenian asli daerahnya tidak perlu diragukan  lagi,” terangnya. 

Oki tunjuk bukti kedatangan M Mansyur, diaspora asal Ponorogo yang menahun tinggal di Papua Tengah, ingin menyaksikan langsung pertunjukan reog kolosal di depan paseban itu. Mansyur yang sedang  pulang kampung sengaja menunda kepulangannya ke Papua. “Saya terharu melihat kehebatan kesenian reog langsung di tempat asalnya. Auranya sangat berbeda,” ujar Mansyur yang berbaur dengan para penonton. 

Tak kalah bangga dan terharunya Aan Wibowo, anggota Paguyuban Warga Ponorogo (Pawargo) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, setelah Reog Ponorogo mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda (WBTb). Warga Ponorogo di perantauan selama ini ikut melestarikan kesenian asli daerahnya dengan membentuk grup reog. “Berau juga sudah memiliki grup reog,” kata laki-laki 46 tahun itu. 

Terpisah, Citra Maharani, warga Desa Jabung Kecamatan Mlarak, mengajak anak, ibu, dan ayahnya datang ke paseban untuk menyaksikan pertunjukan reog kolosal dengan 30 dadak merak. Ibu muda itu berharap Reog Ponorogo terus berkembang di kancah internasional. “Sebagai Wong Ponorogo, saya merasa bangga reog masuk daftar warisan budaya dunia,” ujarnya. (tim kominfo)