Siapkan Trauma Healing Antisipasi Dampak Psikologis Pasca Banjir di Ponorogo

DINAS Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Ponorogo berhitung tentang risiko trauma pasca bencana banjir yang melanda pertengahan Desember 2024 lalu. Ada tim yang terus memantau kondisi psikologis puluhan kepala keluarga (KK) di 17 desa dalam wilayah tujuh kecamatan yang menjadi korban  banjir.

FOTO: DOKUMEN DINSOS PONOROGO

 “Sejauh ini kami melihat aktivitas masyarakat di wilayah terdampak banjir sudah berjalan normal. Kalau ada temuan trauma baik yang dialami anak-anak maupun penduduk dewasa akan dilakukan trauma healing (pemulihan gangguan psikologis),” kata Kepala Dinsos P3A Ponorogo Supriadi, Kamis (9/1/2025). 

Terlepas dari kerusakan sejumlah infrastruktur, lanjut Supriadi, bencana banjir tidak begitu berdampak terhadap fungsi sosial di masyarakat. Sebagian korban memang terpaksa mengungsi, namun  mereka dapat segera pulang bersamaan air banjir yang cepat surut. “Tidak sampai terlalu lama di pengungsian,” terangnya.

Pun, Dinsos P3A Ponorogo tidak lantas berdiam diri serampung memenuhi kebutuhan makan dan minum pengungsi korban banjir selama sepekan dengan mendirikan dapur umum. Supriadi menyebut pihaknya masih menyalurkan bantuan berupa ribuan paket bahan pangan.  “Total ada 7.000 paket yang kami siapkan bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Ponorogo untuk disalurkan ke 17 desa terdampak banjir,” jelasnya.

 Masih kata Supriadi, Pemkab Ponorogo bersama Pemprov Jatim, dan Pemerintah Pusat terus mengupayakan berbagai langkah pemulihan di sejumlah sektor pasca bencana banjir. Mulai bidang sosial, sektor pendidikan, kesehatan, hingga perbaikan infrastruktur. “Termasuk upaya mencegah banjir agar tidak terulang,” ungkapnya. (kominfo/dna/art)