Kadinkes Harus Cari Cara Jitu karena Bupati Sugiri Ingin Tekan Habis Stunting
KEPALA Dinas Kesehatan (Kadinkes) Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti harus menemukan resep jitu agar angka stunting berada di titik nadir. Sebab, Bupati Sugiri Sancoko hendak mencetak rekor dengan mematok target prevalensi kasus gagal tumbuh pada anak balita akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi itu turun tinggal 4 persen pada 2025 ini. Prevalensi stunting di Ponorogo pada 2024 adalah 8 persen setelah Dinkes bersama Dinas pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DPPKB) melakukan berbagai aksi masif.

Bersamaan rapat koordinasi teknis (rakortek) rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Ponorogo Tahun 2025-2029 di Ruang Bantarngin, Senin (14/4/2025) malam, Kang Giri meminta upaya menekan habis prevalensi stunting tetap dilakukan mulai pangkal hingga ujung. Pengetahuan tentang dampak serius terhadap kesehatan dan perkembangan anak akibat gangguan pertumbuhan seyogianya sudah diberikan kepada calon pasangan suami istri sebelum menikah.
‘’Sehingga pencegahan stunting dapat dilakukan sejak dini,’’ kata Kang Giri yang seolah menjadi panelis utama saat Kadinkes Dyah Ayu Puspitaningarti memaparkan program kerja dinasnya. Bupati Ponorogo dua periode itu menyebut kolaborasi dinkes dengan Kantor Kementerian Agama dalam memberikan bimbingan pra-nikah bagi calon pengantin cukup efektif untuk sosialisasi pencegahan stunting. ‘’Sebaik-baiknya pencegahan stunting dilakukan pada masa awal kehamilan, bukan begitu Bu Ayu,’’ tanya balik Kang Giri.

Sementara itu, Kadinkes Dyah Ayu Puspitaningarti membeberkan segala daya upayanya untuk percepatan penanganan kasus stunting di Ponorogo. Semua jalan seolah sudah ditempuh bersamaan seluruh lini ikut bergerak. Penurunan prevalensi stunting di Ponorogo sejatinya cukup drastis. Dari 21 persen pada 2021 silam, turun menjadi 14,2 persen (2022), turun lagi ke angka 9,3 persen (2023), dan akhirnya tinggal 8 persen pada 2024. Ponorogo mencetak rekor jika mampu menekan prevalensi stunting tinggal 4 persen. ‘’Kita harus melakukan percepatan penanganan lagi agar prevalensi stunting tinggal separo dibandingkan tahun lalu,’’ jelasnya.
Dinkes akan menerapkan strategi agar seluruh desa di Ponorogo masuk kategori perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang efektif mencegah stunting selain mendukung program Kabupaten/Kota Sehat (KKS). Kadinkes juga sempat memamaparkan upaya memonitor perkembangan ibu hamil melalui program antenatal care (ANC) terpadu. Ibu hamil mendapatkan layanan pemerikaan kesehatan berkala minimal enam kali selama mengandung.
‘’Kami bekerja sama dengan pemerintah desa akan mendata semua ibu hamil yang ada. Nantinya setiap ibu hamil akan mendapat pendampingan dari satu kader kesehatan dan satu mahasiswa untuk memonitor kehamilan sampai persalinan,’’ ungkap Kadinkes Dyah Ayu. (kominfo/nky/mey)