Kemenag Ponorogo Tanam 4.705 Bibit Pohon Kerahkan Pelajar Madrasah dan Santri Pesantren
IKTIKAD Bupati Sugiri Sancoko menanam 3 juta pohon dalam setahun mulai menemukan jalan lempangnya. Ini setelah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ponorogo dengan jaringan yang luas menggulirkan program penghijauan bertajuk Gema Setahon (Gerakan Menanam Sejuta Pohon). Tidak tanggung-tanggung, Kepala Kantor Kemenag (Kakanmenag) Nurul Huda bakal mengerahkan ribuan pelajar 275 madrasah di tiga tingkatan, peserta didik 270 raudhatul athfal (RA) dan 600 lembaga madrasah diniyah, serta barisan santri dari 120 pondok pesantren yang ada di Ponorogo.

Belum lagi, pelibatan karyawan kantor kemenag hingga 21 kantor urusan agama di kecamatan-kecamatan. Kang Giri tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya tatkala mengikuti Gema Setahon di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo, Selasa (22/4/2025). ‘’Seperti pucuk dicinta ulam tiba, ketika kami memberdayakan Gugus Penghijauan bersamaan Kantor Kemenag menjalankan gerakan menanam sejuta pohon. Urusan kecil untuk sebuah kementerian yang begitu besar,’’ kata suami Susilowati itu.
Kemenag memang termasuk instansi pemerintah pusat dengan jumlah aparatur sipil negara (ASN) terbesar. Bersamaan itu, kantor Kemenag di setiap daerah mengurusi berbagai bidang terkait urusan agama –termasuk bimbingan masyarakat, pelayanan agama, pendidikan keagamaan, haji dan umrah, jaminan produk halal, serta pengeloaan zakat dan wakaf.
Kang Giri mengungkap fakta lahan kritis di sepanjang aliran Kali Keyang hingga MAN 2 Ponorogo. Bersamaan itu, marak praktik alih fungsi hutan menjadi pemukiman yang menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Gerakan masif penghijauan bertujuan menyelematkan kelestarian alam demi kehidupan anak dan cucu kelak. ‘’Kebiasaan menanam bibit pohon lalu merawatnya sampai tumbuh besar akan mengatasi beragam problem lingkungan berupa terjadinya bencana alam. Mencegah banjir dan erosi, menambah jumlah oksigen, mengendalikan suhu udara, mencegah pencemaran, serta menjaga tingkat kesuburan tanah,’’ urainya.
Bupati Ponorogo dua periode itu sempat memuji sikap arif nenek moyang kita yang menerapkan konsep bertani dengan sebutan rojo koyo. Yakni, setiap rumah tangga memelihara beberapa ekor sapi untuk membajak sawah bersamaan datangnya masa tanam di sawah. Tatkala waktu panen tiba, jerami dijadikan pakan ternak. Tidak berhenti di situ, kotoran hewan bercampur sampah organik lainnya sengaja diolah menjadi pupuk. ‘’Aktivitas bercocok tanam hampir tidak menyisakan limbah sama sekali. ‘’Kita perlu mencontoh sikap arif petani tempo dulu. Olah pertanian sekarang berputar secara salah,’’ tegas Kang Giri.

Sementara itu, Kakanmenag Ponorogo Nurul Huda menjelaskan bahwa Gema Setahon mendukung aksi nasional menanam satu juta pohon matoa yang diibaratkan sebagai dzikir semesta dari manusia kepada alam yang mulai rentan. Bahkan, Nurul Huda menyebut target menanam 4.705 bibit pohon dengan melibatkan segenap Kantor Kemenag Ponorogo yang jumlahnya bejibun. ‘’Total bibit pohon ini setara dengan jumlah pelajar madrasah, peserta didik RA, santri pondok pesantren dan diniyah, serta seluruh ASN (Aparatur Sipil Negara) di kantor kami,’’ jelasnya.
Turut hadir dalam Gema Setahon di MAN 2, di antaranya, ketua MUI Ponorogo, ketua PCNU, ketua PD Muhammadiyah, ketua FKUB Ponorogo, ketua Badan Musyawarah Antar Gereja, para kepala KUA, serta seluruh kepala MIN/MTs/MAN. (tim kominfo)