Tampil Perdana di FNRP XXX 2025, Reog Ki Ageng Mirah-Lesbumi PCNU Ponorogo Usung Misi Dakwah
TERHITUNG pendatang baru di Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX, keikutsertaan Reog Ki Ageng Mirah memberi warna tersendiri. Kontingen binaan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) itu mengusung komsep Islami khas Nahdliyin.

Lesbumi berdiri sebagai wadah perjuangan seni dan budaya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Tak urung, Reog Ki Ageng Mirah di akhir penampilannya sengaja menyanyikan Yalal Wathon, lirik lagu ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang ulama pendiri NU.
Hengki Triprasetyo, pimpinan produksi Reog Ki Ageng Mirah – Lesbumi PCNU Ponorogo, menyebut kontingennya mengusung misi pendekatan budaya sebagai media dakwah. Tampil bersama 10 kontingen lainnya di malam terakhir FNRP XXX, Rabu (25/6/2025), Reog Ki Ageng Mirah berupaya memasukkan nilai-nilai Islam yang ramah dan membumi tanpa harus menggurui.
“Membawa misi kebudayaan dan dakwah melalui seni dan tradisi. Ini kali pertama Lesbumi PCNU Ponorogo ikut FNRP untuk menghidupkan kembali potensi seni reog dari warga NU, khususnya generasi mudanya,” kata Hengky.
Reog Ki Ageng Mirah tetap menampilkan kisah klasik pertarungan antara Kelono Sewandono dan Singo Barong dalam merebutkan Dewi Songgolangit. Cerita peperangan itu dikemas dengan pendekatan simbolis yang sarat makna. Yakni, perjuangan tidak selalu berlangsung di medan laga melainkan dapat berupa doa-doa yang menguatkan dari balik layar. “Mengajak para penonton merenung tentang makna perjuangan dalam kehidupan, baik perjuangan fisik ataupun perjuangan batin,” ungkap Hengky.

Reog Ki Ageng Mirah tampil berkekuatan 80 personel yang terdiri dari 17 jathil, tukuh dadak merak, 12 warok, dua warok tua, dua Bujang Ganong, dan Kelono Sewandono. Sebagian lainnya adalah kru pengrawit, wiraswara, serta barisan senggak. “Persiapan efektif selama tiga bulan, personel reog melibatkan kader NU di sejumlah MWC yang sudah terleksi ketat,” ujar Hengky.
Masih kata dia, kontingennya berupaya menghidupkan lagi elemen-elemen gerakan reog yang hampir hilang dari pentas-pentas modern. Loncatan dadak merak khas Singo Barong, misalnya. “Berdasarkan masukan dan riset bersama para sesepuh reog. Kami ingin membangkitkan kerinduan masyarakat terhadap bentuk-bentuk gerakan lama yang mulai ditinggalkan,” paparnya. (kominfo/mey)