Renda Ulang Perpindahan Pusat Pemerintahan Ponorogo Pada 188 Tahun Silam
KIRAB Pusaka dan Pawai Lintas Sejarah berupaya merenda ulang perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari Kota Timur ke Kota Tengah. Ada peran sentral KRMA Mertonegoro, bupati ke-14 Ponorogo, yang memindah pusat pemerintahan dari Kelurahan Setono ke Kelurahan Mangkujayan itu.

Mertonegoro yang menjabat bupati selama 17 tahun (1837-1854) digambarkan juga memboyong pusaka Ponorogo ke pusat pemerintahan Ponorogo yang baru. Karena itu, Tumbak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito, Songsong Kyai Tunggul Wulung, Tumbak Kyai Pamong Among Geni, dan Tumbak Kyai Bromo Geni berada di barisan kirab paling depan.
Perpindahan pusat pemerintahan itu membawa konsekuensi pula boyongan aparat pemerintah. Tak urung, seluruh kepala dinas dan badan di lingkup Pemkab Ponorogo turut berpawai naik kereta kuda. ‘’Kirab pusaka dan pawai lintas sejarah sedapat mungkin menggambarkan saat perpindahan pusat pemerintahan dari Kota Wetan ke Kota Tengah pada 188 tahun silam,’’ kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi, Kamis (26/6/2025).
Menurut Judha, perpindahan pusat pemerintahan kala itu mempertimbangkan faktor geografis karena wilayah Kelurahan Mangkujayan berada di jalur perdagangan antar wilayah dengan Kadipaten Pacitan, Kadipaten Wonogiri, Kadipaten Madiun, Magetan, dan Kadipaten Trenggalek.
Mertonegoro sengaja membuat jalan lingkar kota dengan menanam perindang pohon asem. Di setiap perempatan juga dibangun gardu pengamanan yang disebut gerdon. Selain itu, dia memprakarsai pembangunan sejumlah pasar, masjid, rumah dinas bupati, paseban, penjara, dan rumah sakit.
Pun, banyak orang penasaran dengan pusaka-pusaka milik Batoro Katong yang selalu dikirab setiap Grebeg Suro. Mengacu literasi sejarah, tiga pusaka itu memiliki histori berbeda. Songsong (Payung) Kyai Tunggul Wulung sepanjang 3 meter dan Tombak Kyai Tunggul Naga dengan panjang sekitar 2,75 meter dan bilah 30 centimeter berasal dari zaman Kerajaan Majapahit era Brawijaya V yang notabene ayah Batoro Katong.
Sedangkan Angkin Cinde Puspito adalah kain centing dengan panjang sekitar tiga meter milik Batoro Katong. Karena angkin itu pernah dikenakan pendiri Kabupaten Ponorogo, maka dijadikan pusaka dan dirawat hingga sekarang.

Rute kirab pusaka mengambil start dari area makam Batoro Katong, menyusuri Jalan Batoro Katong, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan HOS Tjokroaminoto, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Alun-Alun Timur, dan finish di paseban Utara Alun-Alun Ponorogo. Sepanjang rute kirab penuh sesak dengan masyarakat yang berjajar di dua tepi jalan. Pusaka Ponorogo kembali disimpan di Pringgitan, rumah dinas bupati, setelah rampung dijamas. (tim kominfo)