Bupati Sugiri dan Wagub Emil Dardak Bicara Kepemimpinan Ideal di Kampus Unida Gontor

DISKUSI Kebangsaan di kampus Universitas Darussalam (Unida) Gontor menyuguhkan sudut pandang yang beragam. Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko,  Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, kalangan akademisi, dan para santri menyampaikan gagasan tentang pola kepemimpinan ideal di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial.

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan konsep Astabrata dalam diskusi yang berlangsung hangat di kampus Unida Gontor bersamaan rangkaian acara Duta Mahasantri itu, Minggu (20/7/2025) pagi. “Astabrata yang memuat delapan sifat kepemimpinan dalam falsafah Jawa masih relevan untuk membentuk karakter pemimpin masa depan,” tegasnya.

Kang Giri menekankan bahwa seorang pemimpin ideal harus bisa menjadi seperti matahari yang menyinari tanpa pamrih. Bersamaan itu, mampu memposisikan diri layaknya bumi yang kokoh menanggung beban serta rela mengorbankan diri demi menumbuhkan kehidupan banyak orang. “Pemimpin juga harus hadir seperti angin yang memberi nafas kehidupan bagi semua, serta seperti api yang membangkitkan daya juang bagi masyarakat untuk maju,” terangnya penuh semangat.

Bupati Ponorogo dua periode itu juga mengkiaskan pemimpin harus mampu menjadi bintang yang memberi arah dan panduan. Layaknya lautan yang luas jiwanya untuk menampung perbedaan pendapat dan aspirasi dari berbagai pihak. Tidak kalah penting, pemimpin harus punya sifat langit yang mempunyai keluasan ilmu, serta memberi manfaat dengan menaungi seluruh lapisan masyarakat. “Warisan nilai-nilai ini adalah pedoman yang tak lekang oleh waktu dan jadi fondasi untuk membangun kepemimpinan yang berkarakter,” tegas Kang Giri di atas podium.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir secara virtual, mengingatkan ratusan mahasantri tentang pentingnya menjaga integritas kepemimpinan di era digital. Emil menegaskan bahwa kepemimpinan tidak dapat dinilai hanya dari posisi atau gelar semata. Melainkan juga dari rekam jejak dan dedikasi seseorang dalam memberi dampak positif. “Siapa saja bisa menjadi pemimpin melalui pemikiran dan tindakan yang mereka suarakan,” ujarnya.

Emil mengungkapkan, kepemimpinan bermula ketika seseorang berani mengambil inisiatif, bersikap proaktif, dan kreatif. Kepercayaan publik kepada pemimpin muncul bukan dari pangkat atau jabatan. Namun, dari komitmen dan kerja keras yang konsisten. “Kepemimpinan adalah soal bagaimana kita bisa memimpin diri sendiri terlebih dulu sehingga layak dipercaya,” ungkapnya.

Selain sebagai forum diskusi, acara ini juga menjadi momen untuk memberikan apresiasi kepada para santri terbaik melalui Anugerah Duta Mahasantri Darussalam 2025. Duta Mahasantri adalah mereka yang mampu menebar nilai kepemimpinan Islami, keilmuan, dan adab sebagai insan terbaik di tengah masyarakat. Mahasantri Darussalam wajib menguasai empat kemampuan dasar yang terdiri olah dzikir, olah pikir, olah rasa, dan olahraga. (kominfo/dna)