Hadapi Puncak Kemarau, BPBD Ponorogo Antisipasi Kekeringan di 19 Desa Langganan Terdampak

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2025 berlangsung hingga Oktober dengan karakteristik kemarau basah. Meskipun curah hujan diperkirakan masih akan turun dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo tetap mengantisipasi potensi kekeringan di sejumlah daerah yang selama ini langganan terdampak.

FOTO: DOKUMENTASI BPBD PONOROGO

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo Masun mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan langkah-langkah antisipatif guna menghadapi dampak musim kemarau. Namun, dia tetap berharap kemarau panjang tidak terulang tahun ini. “Biasanya pada bulan Juli sudah ada laporan kekeringan dan langsung dilakukan asesmen. Sejauh ini kami bersyukur karena Ponorogo masih dalam kondisi aman,” kata Masun, Selasa (22/7/2025).

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD melakukan asesmen pada Agustus bersamaan puncak musim kemarau. Proses evaluasi itu akan menyasar 19 desa tersebar di tujuh kecamatan yang selama ini rawan kekeringan. “Kita survei ulang kondisi di setiap titiknya untuk memastikan kondisi terkini dan tingkat kebutuhan masing-masing,” terang Masun.

Bersamaan itu, BPBD sudah menyiapkan mobil tangki, tandon air, dan jeriken untuk mendukung respons cepat di lapangan. Persiapan tambahan yang sedang dilakukan. adalah pengadaan jeriken berkapasitas 25 liter untuk mendukung distribusi air bersih di titik-titik rawan. “Kami ingin memberikan respon yang cepat dan tepat ketika harus melakukan penanganan bencana kekeringan,” jelasnya.

Menurut Masun, pihaknya selama 2024 lalu menangani 35 kejadian kekeringan dan 36 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD memasok air bersih untuk memenuhi kebutuhan 3.690 jiwa di 19 desa terdampak kekeringan. Bersamaan itu, mengirim bantuan logistik berupa 11 tandon air, 20 tandon lipat, 570 jeriken, dan 25 terpal. (kominfo/dna)