Gandeng Desa Wisata Institute, Siapkan Tiga Desa Penyangga Utama Kawasan Telaga Ngebel
DAYA tarik wisata di kawasan Telaga Ngebel bakal bertambah. Ini setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo menggandeng Desa Wisata Institute dari Yogyakarta untuk mendampingi pengembangan tiga desa wisata di Kecamatan Ngebel. “Harus diakui bahwa Telaga Ngebel itu eksotis. Potensi pariwisatanya harus dapat berkembang, desa-desa di sekitarnya harus turut ambil bagian sebagai destinasi pendukung,” kata Judha Slamet Sarwo Edhi, kepala Disbudparpora Ponorogo saat membuka acara pendampingan, Sabtu (26/7/2025).

Menurut dia, Desa Wisata Institute akan melakukan pendampingan serta pelatihan sumber daya manusia (SDM) desa wisata di Desa Ngebel, Desa Gondowido, dan Desa Pupus. Tiga desa itu memiliki potensi wisata cukup besar jika mampu mengemasnya secara profesional. “Kita tidak ingin kunjungan wisatawan hanya berhenti memandang telaga. Harapannya mereka mau singgah bahkan bermalam untuk menikmati keindahan dan kekayaan budaya desa-desa di sekitarnya,” jelasnya.
Judha mengatakan Desa Ngebel, Desa Gondowido, dan Desa Pupus memiliki karakteristik dan potensi wisata yang berbeda. Desa Gondowido, misalnya, memiliki destinasi wisata Ngambang Tirto Kencono. Selain itu, menyimpan keragaman aneka kuliner lokal seperti tiwul, gula aren, dan kopi khas Hargokiloso yang terkenal hingga mancanegara. “Kalau Desa Pupus punya keindahan alam Mloko Sewu, Mloko Jajar, dan Hutan Lindung Sigogor yang belum sering dijamah,” ungkapnya.
Sedangkan Desa Ngebel memiliki Ngebel Adventure Park yang jika dikelola dengan baik akan menarik minat wisatawan. “Kalau tanpa tata kelola yang baik dan regenerasi pengelola, maka potensi keindahan alam, keragaman kuliner, dan produk lokal tidak akan dikenal,” tegas Judha.
Masih kata dia, pengembangan pariwisata tidak dapat sebatas mengandalkan kebijakan pemerintah. Namun, harus ada sinergi dan geliat kepedulian dari berbagai pihak. “Kalau desa tidak semangat, usaha dinas pun tidak akan berarti. Kita harus responsif, harus inovatif,” terangnya.
Melalui pendampingan Desa Wisata Institute, Judha berharap terwujud sinergi antar stakeholder untuk menyusun program desa wisata yang terintegrasi dan inklusif. Pengembangan desa wisata akan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. “Saya bermimpi tiga desa ini bisa terintegrasi dalam sebuah program wisata yang layak jual dan menjadi magnet baru bagi pariwisata Ponorogo.” harap Judha.

Program pendampingan dari Desa Wisata Institute ini akan berlangsung selama dua bulan. Pendamping akan melakukan kunjungan langsung enam kali ke masing-masing desa wisata. “Menggali dan mengoptimalkan potensi lokal, serta mengemasnya menjadi daya tarik pariwisata yang berkelanjutan dan layak jual,” pungkas Judha. (kominfo/dna)