Tertibkan Truk ODOL, Warga Tiga Desa di Kecamatan Jenangan Turun ke Jalan
AKTIVITAS truk pengangkut hasil tambang yang over dimension over load (ODOL) mendapat penolakan. Warga dari tiga desa di sepanjang jalur Jenangan-Semanding memberhentikan paksa truk bermuatan berlebihan itu karena dianggap merusak jalan, Selasa (29/7/2025). Selain itu, sopir truk ODOL dituding kerap ugal-ugalan sehingga membahayakan sesama pengguna jalan.

PROTES : Warga berunjuk rasa menghentikan truk ODOL pengangkut hasil tambang yang melintas di depan Balai Desa Jimbe Kecamatan Jenangan, Ponorogo, Selasa (29/7/2025).
Warga dari tiga desa itu berkumpul di depan Balai Desa Jimbe Kecamatan Jenangan, Ponorogo, saat menghentikan truk ODOL yang melintas. Kepala Dinas Perhubungan Ponorogo Wahyudi turut hadir dalam audensi antara perwakilan warga, sopir truk, dan pemilik tambang.
Terungkap dalam audensi, jalur Jenangan-Semanding setiap hari dilewati truk pengangkut pasir yang melebihi batas muatan. Bersamaan itu, sopir truk tanpa muatan kerap mengemudi dengan kecepatan tinggi karena berebut antrean pengisian pasir di lokasi penambangan. “Protes warga bertujuan supaya infrastruktur jalan tetap baik dan pengemudi truk pengangkut hasil tambang lebih tertib,” kata Wahyudi.
Muncul delapan poin kesepakatan dari audensi. Yakni, truk pengangkut hasil tambang dilarang beroperasi mulai pukul 06.00 hingga pukul 07.30; truk dengan bak jumbo dilarang beroperasi; sopir truk tidak boleh ugal-ugalan; truk pengangkut hasil tambang dilarang beroperasi malam hari; truk yang melebihi muatan harus dikurangi di tempat; dan truk pengangkut pasir yang melanggar jam operasional dihentikan paksa.
Selain itu, disepakati denda sebesar Rp 2 juta jika ditemukan pelanggaran. Poin terakhir, masyarakat menginginkan pemilik tambang ikut andil dalam perbaikan jalan. “Kesepakan tentang jam operasional itu menyesuaikan jam berangkat sekolah. Dimensi truk juga disepakati, kalau dilanggar akan ada sanksi berupa denda,” terang Wahyudi sembari mengungkapkan petugas dishub berupaya menciptakan situasi tertib di jalan.

Sementara itu, Heru Susanto, perwakilan warga, mengatakan jika sikap sopir truk ODOL kerap membahayakan pengguna jalan yang lain. Apalagi, jika bersamaan jam masuk dan pulang sekolah. Pengguna jalan harus ekstra hati-hati saat melewati jalur Jenangan-Semanding pada jam-jam sibuk itu. ”Kondisi jalan rusak, lalu lintas padat, serta banyak truk melintas. Kami khawatir terjadi kecelakaan,” ujarnya.
Di lain pihak, Andriawan, perwakilan sopir truk tambang, mendukung penuh aspirasi masyarakat. Para sopir siap mengikuti kesepakatan. Mulai dari jam operasional hingga mengurangi kapasitas muatan. ”Muatan kami kurangi, bak over dimensi juga kami lepas. Jam operasional kami ikut aturan warga,” ungkap Andriawan. (kominfo/win)