Cegah Stunting, Perhatikan Fase Krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak Sejak Dalam Kandungan

PULUHAN ibu hamil di Kecamatan Mlarak mendapatkan bekal pengetahuan tentang tumbuh kembang anak agar luput dari stunting. Dokter spesialis anak Kautsar Prastudia yang menjadi pemateri menegaskan fase paling krusial  berada pada 1.000 hari pertama kehidupan –mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

“Pada fase ini seluruh organ penting berkembang pesat, termasuk otak, sistem imun, dan pencernaan. 

Kurang gizi di awal kehidupan anak tidak hanya menyebabkan stunting, tapi juga menurunkan kecerdasan, daya tahan tubuh, bahkan berdampak pada produktivitas di masa depan,” tegas Kautsar dalam sosialisasi di Pendopo Kecamatan Mlarak, Selasa (16/9/2025).

Dia juga menekankan begitu pentingnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif  kepada bayi sejak lahir hingga usia enam bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Sebab, ASI mengandung zat gizi lengkap yang tidak dapat ditiru oleh susu formula. “Di dalam ASI  ada protein, asam lemak esensial, vitamin dan mineral yang cukup, juga zat anti-infeksi seperti IgA, laktoferin, dan lipase yang semuanya tidak dimiliki susu formula,” jelasnya.

Kautsar meminta para ibu tidak keburu memberikan susu formula ketika ASI-nya tidak langsung keluar setelah melahirkan. Padahal, kondisi itu normal yang bukan berarti tidak ada ASI. “Bayi baru lahir bisa bertahan 72 jam tanpa menyusu dalam kondisi normal. Jadi tidak perlu langsung panik. Selama ibu semangat menyusui dan kondisi bayi baik, itu cukup aman,” terangnya.

Jika ibu kesulitan menyusui, Kautsar menyarankan pemberian ASI perah (ASIP). Ini menjadi solusi terbaik ketimbang langsung beralih ke susu formula. Faktor emosional ibu berpengaruh besar terhadap produksi ASI. Hormon oksitosin, yang mendukung keluarnya ASI, akan bekerja optimal jika ibu merasa tenang, bahagia, dan cukup istirahat. “Ibu yang bahagia akan memproduksi oksitosin lebih baik. Di sinilah peran suami sangat penting dengan memberi dukungan emosional dan waktu istirahat untuk istrinya agar proses menyusui berjalan lancar,” katanya.

Setelah bayi berusia enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) menjadi hak wajib. Kautsar mengingatkan bahwa MPASI tidak harus mahal, asalkan bergizi dan seimbang. Beberapa bahan lokal yang kaya gizi dan mudah ditemukan, di antaranya, ikan air tawar yang  kaya protein dan omega-3. Pun, tempe dan tahu juga mengandung protein nabati. “Daun kelor itu tinggi zat besi dan vitamin A. Sementara ubi, jagung, dan singkong merupakan sumber karbohidrat kompleks. Jangan lupa telur ayam kampung mengandung kolin untuk perkembangan otak,” rincinya.

Menurut dokter Kautsar,  di buku kesehatan ibu dan anak (KIA)  terdapat panduan MPASI sesuai usia, termasuk contoh menunya. Dia mengingatkan agar orang tua selalu mengacu pada Buku KIA untuk memantau tumbuh kembang anak dan bukan membandingkan dengan anak sebayanya yang lain. “Kalau grafiknya di bawah garis merah, itu harus jadi perhatian serius. Tapi bukan berarti yang di atas garis merah boleh diabaikan. Semua anak tetap harus diawasi agar tumbuh optimal,” ungkapnya.

Dia juga menepis anggapan bahwa tinggi badan anak sepenuhnya ditentukan oleh genetik. “Anak pendek bukan berarti faktor keturunan. Secara genetik, kita hampir sama. Yang membedakan adalah apakah pertumbuhannya didukung gizi dan lingkungan yang optimal,” tambahnya. (kominfo/dna)