Dari Ponorogo hingga Eropa, Jejak Nurhadi “Pete” Putut Sugito Promosikan Reog Ponorogo

PERJALANAN hidup Nurhadi Putut Sugito berada dalam satu garis lurus menekuni kesenian Reog Ponorogo. Selama puluhan tahun, dia setia mengasah keahliannya menari Bujangganong. Aktivitas keseharian Pete –sapaan Nurhadi Putut Sugito– juga tak jauh-jauh dari Dapur Seni Probo Wengker, sanggar tempatnya kali pertama berlatih tari sekitar tahun 1998. “Ayah saya pelaku seni Reog Ponorogo dan berharap anaknya mengikuti jejak beliau. Saya akhirnya ikut menari sejak kelas empat SD,” kenang Pete, Kamis (25/09/2025).

FOTO: ISTIMEWA

Sedari awal, laki-laki yang lahir di Ponorogo 22 Februari 1988 itu memilih jalannya dengan serius. Pete konsisten menari Bujangganong dan berlatih di satu sanggar. “Saya murni lahir dan besar di Probo Wengker sampai sekarang dan tidak pernah berpaling ke tempat lain. Probo Wengker sudah menjadi panji dan almamater saya,” tuturnya saat ditemui di rumahnya yang penuh dengan pernak pernik Reog Ponorogo.

Dari sanggar tari itu, perjalanan panjang Pete berkesenian dimulai. Selama lebih dari satu dekade, dia menjadi bagian penting dalam setiap pertunjukan Reog Ponorogo di dalam negeri maupun di luar negeri. Tahun 2008 menjadi titik awalnya tampil di panggung internasional. “Waktu itu saya pertama kali ke Malaysia, saat Reog Ponorogo sedang ramai diklaim negara lain. Kami datang sebagai delegasi untuk menunjukkan bahwa reog itu milik Ponorogo,” ungkapnya dengan bangga.

Keterlibatan Pete dalam mengenalkan dan mempromosikan Reog Ponorogo berlanjut ke Singapura sebelum mencatat pencapaian tertinggi dengan berkeliling Eropa pada 2023. “Kami pentas di Den Haag Belanda tepatnya di event Tong-Tong Fair, lalu juga ke Belgia, Prancis, hingga Jerman. Bagi saya, itu capaian yang luar bias karena tidak semua seniman reog punya kesempatan yang sama,” ujarnya.

Selama berkeliling di belahan Benua Eropa itu, Pete tidak sebatas mementaskan Reog Ponorogo. Namun, juga menggelar workshop. Mulai mengajari bule menari hingga memahamkan cara menggerakkan topeng besar berbentuk kepala macan dengan hiasan bulu merak di atasnya yang disebut dadak merak itu. “Mereka awalnya penasaran dan akhirnya terkagum-kagum,” ungkap Pete.

Menjadi duta budaya yang mengenalkan Reog Ponorogo ke sejumlah negara di Eropa merupakan pengalaman berharga bagi Pete. Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan Reog Ponorogo di kancah internasional bersamaan upaya pelestariannya. “Itu bukan sekadar pentas, tapi amanah untuk mengenalkan Reog Ponorogo di mata dunia. Antusiasme penonton di luar negeri luar biasa, mereka kagum pada kesenian kita,” ucapnya.

Kesibukan Pete sekarang ini melatih tari di Dapur Seni Probo Wengker, sanggar yang telah membesarkan namanya. Perjalanan panjang sebagai penari Bujangganong bukan sebatas meninggalkan kenangan. Pete ingin menularkan kemahiran dan pengalamannya kepada generasi muda. “Saya hanya berangkat dari sanggar, bukan akademisi. Tapi bisa pentas keliling Eropa sekaligus duta budaya,” pungkasnya. (tim kominfo)