Pastikan Beras Bebas Kutu dan Kadar Air Rendah, Kepala Bapanas Sidak Gudang Bulog Ponorogo
KEDATANGAN Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi ke Ponorogo ternyata juga mensidak gudang beras Bulog di Desa Ngrupit Kecamatan Jenangan. Arief sebelumnya hadir dalam peringatan Hari Telur Sedunia di Alun-Alun Ponorogo, Kamis (9/10/2025).

“Saya cek beras yang dipersiapkan untuk bantuan pangan dan SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Nomor satu, tidak ada kutu. Yang kedua, kadar airnya semuanya di bawah 14 persen,” bungah Arief.
Bapanas berkepentingan memastikan kualitas beras bantuan pangan dan beras SPHP tetap terjaga. Bersamaan itu, mengecek kesiapan stok beras Bulog aman hingga awal tahun depan. “Seluruh beras di gudang Bulog Ponorogo dalam kondisi baik dan layak untuk disalurkan kepada masyarakat,” jamin Arief.
Arief menegaskan bahwa beras yang keluar dari gudang Bulog wajib melalui proses pengecekan dan perawatan rutin. Tanpa kecuali, melalui proses fumigasi dan blower agar bebas kutu atau penurunan mutu. “Pada prinsipnya, tidak boleh ada beras yang keluar dari gudang Bulog dalam kondisi jelek. Itu kewajiban seluruh kepala gudang dan pimpinan wilayah. Kalau ditemukan penurunan mutu, Bulog wajib melakukan reprocessing agar kualitas tetap baik,” tegasnya.
Arief juga menekankan pentingnya menjaga kualitas bahan pangan di seluruh gudang Bulog di Indonesia. Perlu melakukan pengawasan mutu secara rutin agar masyarakat mendapatkan beras dengan kualitas terbaik. “Untuk jaminan kualitas, produk pangan tidak boleh dikeluarkan dari Bulog dalam kondisi jelek. Ini prinsip yang harus dijaga di seluruh Indonesia. Kita harus jaga kualitas stok di Bulog, termasuk di Ponorogo dan Jawa Timur,” jelasnya.
Arief juga memeriksa kualitas jagung di gudang Bulog. Kadar air masih memenuhi standar dengan rata-rata 12,6 persen dari batas maksimal 14 persen. Dia mengapresiasi dukungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang menyokong produksi jagung untuk kebutuhan pakan ternak. “Jagungnya bagus, kadar airnya juga sesuai standar. Terima kasih kepada Pak Kapolri, Kapolda, dan jajaran yang ikut membantu menjaga distribusi pangan. Karena yang kita bangun saat ini adalah ekosistem pangan, bukan hanya untuk petani dan peternak, tapi juga untuk konsumen,” ujarnya.
Arief menjelaskan, harga jagung yang tinggi di tingkat petani saat ini mencapai Rp 5.500 per kilogram dengan kadar air 18–20 persen. Sedangkan di gudang Bulog dibeli Rp 6.400 per kilo dengan kadar air maksimal 14 persen. Untuk menjaga stabilitas harga telur ayam, Bulog telah menyalurkan 52.400 ton jagung dengan nilai sekitar Rp 78 miliar kepada peternak layer (ayam petelur), terutama peternak rakyat dan koperasi di sejumlah daerah. Termasuk Ponorogo, Magetan, Madiun, Pacitan, dan Blitar. “Kita ingin harga jagung di petani bagus, harga telur di peternak bagus, tapi harga di konsumen juga tetap terjangkau. Itu baru kondisi ideal. Maka ekosistem pangan harus dibangun secara utuh, tidak bisa jika hanya parsial,” terang Arief.
Dalam kesempatan yang sama, Arief juga mengungkapkan bahwa stok beras nasional di Bulog saat ini mencapai 3,89 juta ton, cukup untuk kebutuhan hingga Februari 2026. “Biasanya panen raya itu Maret atau April. Jadi stok ini kita jaga agar bisa disalurkan sampai akhir tahun. Kita siapkan 1 juta ton untuk SPHP, supaya kalau ada daerah dengan harga beras tinggi, langsung bisa dilakukan intervensi,” ujarnya.

Dia menambahkan, setiap daerah yang mengalami kenaikan harga beras dapat langsung berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar. “Sudah ada koordinasi penuh dengan Menteri Dalam Negeri dan BPS. Kalau harga beras di suatu kabupaten naik, pimpinan daerah bisa langsung meminta Bulog melakukan intervensi. Stoknya tersedia. Kita harus jaga inflasi agar tidak lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi,” pungkas Arief. (tim kominfo)