Hargai Keberagaman, SMPK Slamet Riyadi Gandeng Takmir Masjid NU Ponorogo
CARA pandang inklusif berkembang di SMP Katolik (SMPK) Slamet Riyadi. Pelajar dan guru beragama Islam di sekolah yang berada di Jalan Gajah Mada Nomor 12 Ponorogo itu mendapat kesempatan memperingati Hari Santri 2025. Dalam acara bertajuk “Sharing Rohani,” pekan lalu mereka bersilahturahmi dengan dua Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo, I’anatullah Ishomuddin dan H Imron Husnussairi.

Kresensiana Vitarini, kepala SMP Katolik Slamet Riyadi Ponorogo, mengatakan bahwa sekolahnya bukan hanya untuk pelajar beragama Katolik. Namun, ada peserta didik yang memeluk agama Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen Protestan. “Mayoritas tenaga pendidik di sekolah kami beragama Islam,” katanya, Kamis (17/10/2025).
Dia hendak menunjukkan bahwa sikap menghargai keberagaman mengedepan di SMPK Slamet Riyadi. Bersamaan itu, kesetaraan berlaku untuk seluruh warga sekolah tanpa memandang perbedaan latar belakang, kemampuan, dan status. “Kami percaya bahwa keberagaman adalah kekayaan,” terang Kresensiana.
Pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan takmir Masjid NU selama tiga tahun. Siswa non-muslim juga pernah ikut kegiatan Sharing Rohani itu. “Berlangsung dialog tentang nilai-nilai keagamaan. Memperkuat toleransi yang selama ini sudah kami tanamkan di sekolah,” jelasnya.

SMPK Slamet Riyadi juga menerapkan pembiasaan harian melalui rutinitas Rabu Rohani yang memberikan ruang kepada siswa menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Kresensiana mengacu Peraturan Bupati (Perbub) Ponorogo Nomor 37 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Keagamaan Pada Pendidikan Dasar.
“Sekolah bukan tempat untuk menyeragamkan keyakinan, tapi tempat untuk membentuk pribadi yang menghargai perbedaan,” pungkas Kresensiana. (tim kominfo)