Bupati Sugiri Dapat Mandat Kawal Pesantren Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO
MANDAT mengawal pesantren masuk daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO turun kepada Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Success story Kang Giri –sapaan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko– yang berhasil memperjuangkan Reog Ponorogo mendapat pengakuan Intangible Cultural Heritage (ICH) dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menjadi pertimbangan tokoh pesantren dan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) memberikan kepercayaan itu.
“Saya mencoba menggali kalau pesantren di-UNESCO-kan, sedang mengkaji bersama para ahli. Pernah ada Konvensi Pendidikan 1960, kemudian adakah ICH yang terkait dengan pesantren, di mana titik yang bisa kami usulkan ke UNESCO,” terang Kang Giri selepas sarasehan bertema “Upaya Menuju Pengakuan Pesantren sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO” di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Selasa (21/10/2025).

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko Dukung Penuh Pesantren jadi WBTb UNESCO
Menurut Kang Giri, perlu menggali keunikan-keunikan yang dimiliki pesantren sebagai bahan usulan ke UNESCO. Namun, tahapan pengajuan sebuah objek sebagai WBTb harus diawali penyusunan dokumen nominasi oleh komunitas budaya, akademisi, dan pemerintah daerah dengan fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan. “Sebelum ke UNESCO, kami ingin menghadap Bapak Presiden agar setidaknya pesantren mendapat pengakuan dulu sebagai warisan budaya takbenda di Indonesia. Kemudian tahun depannya diusulkan ke UNESCO,” jelasnya.
Kang Giri menilai pesantren memenuhi kriteria yang layak mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia. Sebab, pesantren memiliki sistem pendidikan khas yang berbeda dengan pendidikan umum. Pola pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak santri.
“Cara mentransfer knowledge, mentransfer karakter dengan teladan kiai dan teladan para ustad. Sangat mengena dan bagus hasilnya. Santri tidak sekadar pintar, karena pesantren mengajarkan adab, sikap, sekaligus teladan,” ungkapnya.

Jika berhasil masuk daftar WBTb UNESCO, lanjut Kang Giri, maka akan memberi prestise tersendiri bagi pesantren. Bersamaan itu, membuka peluang lebih sistematis serta dukungan pengembangan fasilitas pendidikan dan kebudayaan. “Perlu digali sedalam-dalamnya agar uniqueness-nya (keunikannya) dapat, kelebihannya dapat, dan kesetaraannya juga dapat,” tambahnya.
Sementara itu, Profesor Hamy Wahjunianto (anggota tim pengusul Reog Ponorogo ke UNESCO) menilai bahwa pesantren memiliki peluang besar untuk masuk dalam daftar ICH UNESCO. “Kami melihat pesantren memiliki dua peluang.Yang pertama masuk kategori seperti yang kita impikan yaitu warisan budaya takbenda dunia dan kedua masuk di kategori pendidikan,” ujar Hamy. (kominfo/wbi)