Momentum Hari Santri Naikkan Dua Lipat Tingkat  Kunjungan Makam Bathoro Katong

ADA korelasi antara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 dan tingkat kunjungan makam Bathoro Katong. Sejak akhir pekan ketiga Oktober, peziarah berdatangan ke makam pendiri Ponorogo sekaligus tokoh syiar Islam yang berada di Kelurahan Setono Kecamatan Jenangan itu.

Sunardi, juru kunci makam Bathoro Katong mencatat, para peziarah berasal dari kalangan santri, pelajar, dan masyarakat umum. Mereka datang dari Ponorogo dan luar daerah. “Saya selalu mengigatkan agar pengunjung menjaga sikap selama berada di kompleks makam,” katanya, Kamis (23/10/2025).

FOTO: MEYLAN/KOMINFO PONOROGO
SYUKUR: Penjual mainan sedang menggelar dagangannya di Pendopo Makam Bathoro Katong pada Rabu (22/10/2025)

Menurut Sunardi, makam Bathoro Katong adalah objek wisata religi. Apalagi, terdapat sejumlah benda dan bangunan yang sedang diusulkan sebagai cagar budaya. “Para pelajar yang datang juga bertanya tentang sejarah Bathoro Katong dan siapa saja yang dimakamkan di kompleks utama,” ungkapnya.

Bersamaan itu, meningkatnya jumlah peziarah makam Bathoro Katong memberikan limpahan rezeki bagi para pedagang. Sebanyak 32 pedagang yang berjualan makanan, minuman, dan cindera mata di kawasan makam berhimpun dalam paguyuban. “Jumlah pengunjung naik dua kali lipat dibandingkan hari biasa, mulai terlihat tanggal 19 Oktober sampai 22 Oktober bertepatan dengan Hari Santri,” ujar Win, ketua paguyuban pedagang.

Bahkan, pedagang dari luar daerah juga ikut datang untuk menjemput rezeki. Win menduga naiknya tingkat kunjungan makam Bathoro Katong karena Pemkab Ponorogo menggelar rangkaian acara peringatan HSN 2025 secara meriah. “Mudah-mudahan tahun depan tak kalah meriah,” harapnya.

Paguyuban juga mengharapkan penataan kawasan makam Bathoro Katong sebagai objek wisata religi tetap memberi ruang bagi para pedagang lama. Mereka selama ini menerapkan jam operasional mulai pagi hingga pukul 17.00. Khusus Sabtu dan Minggu, mereka berjualan hingga malam. “Kami mendapatkan manfaat dari sisi ekonomi dengan keberadaan makam Bathoro Katong,” akunya.

Harapan serupa juga diungkapkan Zainal yang tidak ingin lahan parkir yang dikelolanya tersisih jika kelak kawasan makam ditata. Dia selama ini memanfaatkan area di depan rumahnya untuk parkir kendaraan pengunjung. “Kebanyakan peziarah datang naik kereta kelinci dan bus kecil,” ucap Zainal yang  mengelola parkir sejak 2016 lalu itu.

Dia sempat khawatir penataan lahan parkir yang baru nanti akan menutup akses kendaraan pengunjung masuk di dekat kompleks makam Bathoro Katong. “Biar pengunjung tidak jalan kaki terlalu jauh dan warga di sekitar kompleks makam tetap menerima manfaat,” pungkasnya. (kominfo/nky/mey)