Bijak Konsumsi Tanaman Herbal Sesuai Dosis, Obat Alami Tidak Sepenuhnya Aman
PENGETAHUAN berharga dari Yaya Sulthon Aziz, dosen Akademi Farmasi (Akafarma) Sunan Giri Ponorogo, tentang tanaman herbal. Dia mengingatkan ada beberapa tanaman herbal yang dapat bersifat toksik (beracun) jika dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka waktu panjang. “Prinsip bahwa yang alami pasti aman itu tidak sepenuhnya benar. Konsumsi tanaman herbal harus bijak dan sesuai dosis,” kata Yaya, Senin (27/10/2025).
Dosen program studi (prodi) farmasi itu menyebut masyarakat secara turun temurun sudah mengetahui khasiat sejumlah tanaman untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh berikut cara pengolahannya. Beberapa kecamatan di Ponorogo juga penghasil tanaman herbal seperti jahe merah, temulawak, kunyit, kencur, laos, brotowali, sambiloto, dan temu ireng. “Sebaiknya perlu konsultasi dengan herbalis atau dokter yang memahami fitofarmaka sebelum mengkonsumsi tanaman herbal dalam jumlah lebih dan waktu yang lama,” terangnya.

BERKHASIAT : Berbagai tanaman rimpang yang diolah menjadi minuman
Yaya menambahkan, konsumsi tanaman dalam konteks kesehatan masyarakat, sejatinya sebatas berfungsi menjaga keseimbangan fungsi tubuh dan membantu pemulihan secara alami. Bukan untuk menyembuhkan penyakit secara langsung seperti obat kimia. “Herbal cocok untuk pencegahan penyakit, terapi pendamping, dan pengelolaan penyakit kronis. Jadi bukan pengganti obat dokter,” imbuhnya.
Yaya melihat fenomena positif dengan munculnya pelaku usaha kecil yang mengolah tanaman herbal menjadi produk modern seperti serbuk, ekstrak, dan kapsul. “Inovasi ini menandai kebangkitan baru dalam pemanfaatan herbal tradisional di Ponorogo. Proses ekstraksi modern bisa menghasilkan produk yang higienis dan memiliki dosis terukur, asalkan dilakukan dengan standar yang baik,” tegasnya.
Dia sempat merinci kandungan beragam senyawa aktif tanaman-tanam herbal tanaman-tanaman tersebut memiliki yang bermanfaat menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Jahe merah, misalnya, memiliki senyawa gingerol dan shogaol yan berkhasiat sebagai penghangat badan dan antiemetik alami. “Temulawak mengandung kurkuminoid dan xanthorrizol yang berperan sebagai hepatoprotektor, menjaga kesehatan hati sekaligus meningkatkan nafsu makan,” rincinya.
Kandungan tanaman herbal lainnya tak kalah berkhasiat. Setiap tanaman memiliki senyawa aktif yang berperan penting bagi kesehatan, mulai dari zat antiinflamasi, antioksidan, hingga imunomodulator alami.
“Kunyit kaya kurkumin yang bersifat antiinflamasi, kencur mengandung etil p-metoksisinamat yang meredakan nyeri dan melindungi kulit, sedangkan sambiloto yang dijuluki king of bitter dengan andrographolide-nya mampu meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkapnya.
Yaya menerangkan, ada beberapa cara pengolahan tumbuhan herbal tradisional agar khasiatnya tetap optimal. Di antaranya melalui perebusan, penumbukan, dan perendaman dalam madu. Metode-metode ini juga telah dilakukan sejak dulu kala. “Ketiga metode ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara yang dirancang untuk mengekstrak senyawa aktif secara efisien tanpa merusak potensinya,” ujarnya.
Menurut dia, pengetahuan masyarakat terkait pengolahan tumbuhan herbal juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Misalnya, penambahan garam, jeruk nipis, atau lada hitam dalam ramuan ternyata dapat meningkatkan efektivitas senyawa aktif. “Kurkumin dalam kunyit akan lebih stabil bila dipadukan dengan bahan asam seperti jeruk nipis atau asam jawa. Lada hitam mengandung piperin yang mampu meningkatkan penyerapan kurkumin hingga berkali lipat,” pungkas Yaya. (kominfo/nky)