Tim PSC Dinkes Ponorogo Siap 24 Jam Nonstop Tangani Situasi Gawat Darurat
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Ponorogo hadir dalam setiap situasi kegawatdaruratan. Yakni, melalui penerapan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dengan leading sector Dinas Kesehatan (Dinkes).
“Salah satu unit penting dalam sistem ini adalah Public Safety Center atau PSC yang berperan menangani gawat darurat medis, kecelakaan, dan krisis kesehatan bersamaan terjadinya bencana,” kata Hariyono Setyo Widodo, ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinkes Ponorogo, Selasa (28/10/2025).

SIGAP : PSC Ponorogo siap 24 jam tangani kegawatdaruratan
Masyarakat selama ini sudah familiar dengan keberadaan ambulans PSC 119 yang sirinenya kerap meraung-raung di jalan menangani kondisi gawat darurat korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kata Hariyono, SPGDT menganut sistem terpadu yang melibatkan peran masyarakat dan lintas sektor. “Ketika masyarakat melapor tentang kondisi gawat darurat, tim PSC akan segera datang ke lokasi memberikan pertolongan,” terangnya.
Pun, sistem terpadu memungkinkan koordinasi cepat antara masyarakat, PSC, puskesmas, dan rumah sakit. Ketika ada korban lakalantas, misalnya, Haryono menyarankan secepat mungkin menghubungi PSC 119. “Karena time saving is life saving, kecepatan respons sangat menentukan keselamatan. Semakin cepat laporan diterima, semakin besar peluang korban selamat,” jelasnya.
Dia menyebut peran masyarakat sedemikian penting sebelum tim medis tiba di lokasi. Sebab, perlu identifikasi awal kondisi korban apakah sadar atau tidak, apakah kesulitan bergerak, dan apakah aman untuk dipindahkan.
“Jangan memindahkan korban dengan cedera serius, seperti patah leher atau tulang belakang kalau tidak memiliki pengetahuan tindakan gawat darurat. Dokumentasi awal dengan foto juga dapat membantu tim PSC mengetahui kondisi korban kecelakaan secara akurat,” urainya.
Tim PSC terdiri dari perawat dan bidan yang bertugas nonstop 24 jam dalam tiga shift yang siap menjangkau seluruh wilayah Ponorogo. Untuk daerah yang sulit dijangkau, PSC bekerja sama dengan puskesmas melalui jaringan medis sehingga penanganan darurat tetap bisa dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. “Masyarakat bisa menghubungi kontak PSC ataupun puskesmas terdekat, kami akan koordinasi dengan cepat dan tanggap,” tuturnya.

Layanan itu juga didukung radio medik yang terhubung dengan rumah sakit di Ponorogo untuk memantau ketersediaan tempat tidur bagi pasien rujukan. “Setelah melakukan pemeriksaan dan penanganan awal di tempat, tim PSC akan menentukan apakah perlu merujuk pasien atau tidak,” ujar Hariyono.
Selain menangani kondisi darurat harian, PSC juga aktif menangani krisis kesehatan saat bencana terjadi. Tim klaster kesehatan dari dinkes akan memberikan pelayanan di rumah-rumah maupun tempat pengungsian. “Kami melakukan monitoring kesehatan secara berkala dan dapat melibatkan sub klaster program di puskesmas yang meliputi KIA, pemberantasan penyakit, kesehatan lingkungan, logistik, dan promosi kesehatan,” rinci Hariyono.
Masih kata dia, mitigasi di bidang kesehatan sejatinya sudah berlangsung ketika mulai muncul risiko terjadinya bencana bersamaan datangnya musim hujan atau kemarau. “Petugas kesehatan meningkatkan kewaspadaan atas potensi bencana di wilayahnya. Dinkes secara rutin merefrehing tim sub klaster program terkait krisis kesehatan dan ikut melakukan simulasi kebencanaan bersama BPBD,” pungkasnya. (kominfo/dna)