Budaya Bungkus Godong di Ponorogo Layak Promosi Tingkat Global

KREATIVITAS masyarakat muncul bersamaan status baru Ponorogo sebagai bagian UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Warga Blok D Perumahan Grisimai berupaya menjaga kebiasaan membungkus makanan dengan daun yang sudah menjadi budaya turun temurun. Event Gelar Budaya Bungkus Godong digelar di perumahan yang berada di Kelurahan Mangunsuman Kecamatan Siman itu, Sabtu (1/1/2025).

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyebut bahwa nenek moyang kita sudah sadar lingkungan sejak dulu kala melalui kebiasaan membungkus makanan dengan daun. Sebab, bungkus kertas dan plastik lebih sulit terurai secara hayati. “Bungkus godong (daun) adalah kebiasaan yang keren. Ini representasi budaya lokal yang unik serta ramah lingkungan,” kata Kang Giri –sapaan Bupati Sugiri Sancoko– saat hadir di Perumahan Grisimai.

FOTO : ERWIN SUGANDA/KOMINFO PONOROGO
RAMAH LINGKUNGAN : Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyampaikan sambutan saat Gelar Budaya Bungkus Godong di Perumahan Grisimai, Sabtu (1/11/2025).

Masyarakat Ponorogo selama ini memanfaatkan daun pisang dan daun jati untuk membungkus nasi pecel. Sayur garang asem dan kue lemper juga selalu berbungkus daun pisang. ”Bungkus godong ini berwawasan lingkungan, tidak ada limbah karena daun mudah terurai ,” ungkapnya.

Menurut dia, Bungkus Godong layak dikemas menjadi event berskala besar. Bungkus Godong Full Moon setiap malam bulan purnama, misalnya. “Pakai istilah bahasa Inggris karena Ponorogo sudah menjadi bagian Jejaring Kota Kreatif UNESCO,” terang Kang Giri.

Bupati dua periode itu sempat menyebut sejumlah manfaat setelah Ponorogo tergabung dengan 408 kota kreatif di dunia. Setiap gelaran event membuka peluang promosi pariwisata dan pelestarian budaya lokal ke tingkat global. “Semakin besar peluang kita untuk mempromosikan apa saja di tingkat dunia,” jelasnya.

Kang Giri mengungkapkan, Ponorogo akan menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dengan ratusan kota kreatif lainnya di seluruh dunia. Bersamaan itu, pihaknya akan mendorong pengembangan sektor ekonomi kreatif dan industri budaya. “Perlu partisipasi masyarakat dalam mengembangkan kehidupan budaya. Keanggotaan di UCCN membuka peluang promosi pariwisata dan pelestarian budaya lokal ke tingkat global,” ungkapnya. (kominfo/win)