Masyarakat Sambut Suka Cita Ponorogo Masuk Jejaring Kota Kreatif Dunia
MUNCUL euforia menyambut Ponorogo menjadi bagian UNESCO Creative Cities Network (UCCN) atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO. Masyarakat yang bersuka cita itu tumplek blek di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto bersamaan gelaran pertunjukan Reog Ponorogo, gajah-gajahan, jaran thek, orkes keroncong, dan live musik.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko turut berada di tengah-tengah euforia masyarakatnya itu. Bergabungnya Ponorogo di UCCN menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus perekonomian daerah.
“Kita kini bergabung dengan lebih dari 400 kota kreatif dunia. Artinya, Ponorogo secara harfiah ber-sister city dengan ratusan kota kreatif lainnya di dunia,” kata Kang Giri –sapaan Bupati Sugiri Sancoko.

UNESCO NIGHT (Gelar Budaya Tasyakuran UNESCO) disepanjang jalan HOS Cokroaminoto
Sekadar informasi, ada tujuh kota di Indonesia yang masuk UCCN. Yakni, Pekalongan sebagai City of Crafts and Folk Art karena kerajinan batiknya, Bandung (City of Design), dan Ambon (City of Music), Surakarta (City of Crafts and Folk Art), dan Jakarta sebagai City of Literature. Pada 2025 ini, Ponorogo menyusul menjadi bagian UCCN dari kategori City of Crafts and Folk Art dengan kesenian reognya bersama Kota Malang dari kategori Media Arts.
Kang Giri menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan nilai budaya lokal sebagai bagian dari identitas Ponorogo. Apalagi, Reog Ponorogo sudah lebih dulu mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari UNESCO. “Reog juga yang mendorong munculnya craft atau kriya dan folk art atau seni rakyat sehingga Ponorogo akhirnya menjadi bagian UCCN,” terangnya.
Menurut bupati Ponorogo dua periode itu, butuh proses panjang sebelum Ponorogo layak menjadi bagian Jejaring Kota Kreatif Dunia. Ponorogo sudah tercatat tiga kali lolos 6 besar seleksi nasional KaTa Kreatif. Bahkan, sempat bersaing ketat masuk 2 besar usulan ke UCCN pada 2023 lalu sebelum tersisih dari Depok. “Saya mengetuk relung hati masyarakat Ponorogo agar bersama-sama merawat dan mengembangkan budaya daerah. Jadikan momentum masuk UCCN untuk membangkitkan perekonomian dan kreativitas daerah,” jelasnya.

Hasil Penilaian Mandiri Kabupaten Kota Kreatif Indonesia (PM3KI) Kemenparekraf pada 2021 lalu sudah mengungkap fakta bahwa terdapat 365 paguyuban reog di Ponorogo dengan anggota masing-masing sebanyak 60 orang. Itu berarti ada serapan tenaga kerja sebanyak 24.840 orang dengan omzet tahunan senilai Rp 5,4 miliar rupiah.
Belum lagi, seni kriya yang mengikuti pertunjukan reog. Mulai kerajinan ganongan, gamelan, rengkek, rakap, caplokan, dan ekek. Ada juga batik khas Ponorogo bermotif reyog. Dari sekitar 273 pelaku seni kriya itu, dalam setahun beromzet sebesar Rp 6,4 miliar. (kominfo/wbi)