Evaluasi Program Nandur Panguripan, Siapkan Lagi Ribuan Pohon Hijaukan Ponorogo
GERAKAN penghijauan di Ponorogo menangguk sukses. Setidaknya, Satgas Penghijauan berani mengklaim 52 persen bibit pohon yang selama ini ditanam dalam kondisi hidup setelah program Nandur Panguripan itu berjalan. “Program mulai berjalan Maret 2025. Persentase hidup tanaman penghijauan sebelum adanya program hanya sekitar satu persen,” kata Ketua Satgas Penghijauan Ponorogo Bambang Suhendro.
Pihaknya sengaja melakukan monitoring dan evaluasi (monev) program Nandur Panguripan di pendapa Taman Wengker Ponorogo, Selasa (04/11/2025). Peserta monev itu adalah perwakilan sejumlah perangkat daerah, petani penggarap, Komunitas Hijau, Kemenag, serta Perhutani. “Untuk penyempurnaan dan perbaikan program, sekaligus merancang strategi. Capaian yang ada tidak lantas membuat kita berpuas diri,” terang Bambang.

KOLABORASI: Admin Perangkat Daerah melakukan monitoring dan evaluasi program Nandur Panguripan bersama Satgas Penghijauan di Taman Wengker Ponorogo pada Selasa (04/11/2025)
Dia mengingatkan pentingnya monitoring berkala dan kerja nyata di lapangan agar data-data penghijauan benar-benar valid dan sesuai kondisi riil. Satgas Penghijauan juga mencermati meningkatnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan yang hijau berupa kesediaan merawat pohon asuh. “Perubahan mindset ini juga menjadi indikator keberhasilan program, selain kenaikan pesat persentase tanaman penghijauan yang hidup,” jelasnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Ponorogo itu mengungkapkan, Satgas Penghijauan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo dan Komunitas Hijau sedang menyiapkan sekitar 8.400 bibit pohon berbagai jenis yang penanamannya saat musim hujan ini. Kendati gerakan penghijauan sejatinya tidak bergantung pada hujan. “Kalau dirawat dengan sungguh-sungguh, pohon akan tetap hidup meskipun ditanam pada musim kemarau,” tuturnya.

Bambang menambahkan bahwa sebagian dari ribuan pohon itu akan menggantikan tanaman lama yang mati. Pun, Satgas Penghijauan sudah memetakan lokasi penghijauan yang baru. Aktivitas penanaman yang akan berlangsung akhir November hingga Desember itu menyesuaikan kesesuaian jenis pohon dengan karakter wilayah. “Untuk dataran tinggi perlu tanaman berakar kuat agar mampu mencegah longsor. Konsep penghijauan tidak bisa asal hijau,” tegasnya.
Bersamaan itu, Bambang menyebut Desa Ngindeng di Kecamatan Sawoo akan menjadi destinasi wisata baru berbasis tanaman buah. Pemerintah desa setempat sudah menyediakan lahan aset desa sebagai demplot atau lahan percontohan tanaman buah, yang kelak bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain. Di luar itu ada pula 11,3 H aset milik daerah yang digunakan untuk wisata petik buah. “Ngindeng ini potensial menjadi wisata petik buah karena ada bendungan yang sudah menjadi daya tarik wisata. Kita lengkapi dengan ruang terbuka hijau,” pungkasnya. (kominfo/mey/nky)