PUDAM Tirta Katong Cetak Laba, Mampu Sumbang PAD Ponorogo
PERFORMA Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirta Katong Ponorogo cukup menggembirakan. Laba perusahaan milik Pemkab Ponorogo itu terus mengalami peningkatan sejak 2017 lalu. Secara komulatif selama tujuh tahun berjalan, PUDAM Tirta Katong mampu menghasilkan keuntungan senilai Rp 7,5 miliar.
“Alhamdulillah, laba kami mulai tahun 2017 selalu meningkat setiap tahun,” kata Lardi, direktur PUDAM Tirta Katong, Rabu (5/11/2025). Dia menyebut hitungan nominal keuntungan sebesar Rp 7,5 miliar itu komulatif selama tujuh tahun rentang 2017 hingga 2023. Dengan begitu, rata-rata laba PUDAM Tirto Katong sebelum dipotong pajak adalah Rp 1 miliar per tahun.

SIAP MELAYANI : Dua unit mobil tangki milik PUDAM Tirto Katong Kabupaten Ponorogo siap digunakan untuk distribusi air kepada masyarakat
Pun, PUDAM Tirta Katong pada 2023 lalu sudah menyetorkan sebagian deviden ke kas daerah. Laba perusahaan setelah dikurangi pajak itu tidak seluruhya disetor sebagai pendapatan asli daerah (PAD) karena harus ada penyisihan dana cadangan yang besarannya hingga 20 persen. “Pembagian deviden ini berdasarkani hasil keputusan rapat dengan dewan pengawas setelah proses audit selesai,” terang Lardi.
Hak deviden Pemkab Ponorogo sebagai pemegang saham utama adalah senilai Rp 3,6 miliar. Dari nominal itu, sekitar Rp 2,4 miliar di antaranya sudah disetorkan ke kas daerah. Deviden sisanya 1,165 milyard akan disetor pada 2025 ini. “Tapi kalau pemerintah daerah punya target PAD tertentu, kami ikut menyesuaikan,” ungkap Lardi.
Menurut dia, PUDAM Tirta Katong mengemban tugas untuk memeratakan dan meningkatkan pelayanan air minum bagi masyarakat. Dalam operasionalnya, tentu terdapat pos pendapatan dan pengeluaran yang berujung ke perhitungan laba atau rugi. “Kalau menginginkan laba yang lebih besar, maka perlu diversifikasi usaha. Kami sedang mengembangkan usaha air minum dalam kemasan. Bangunan pabrik sudah siap, tinggal menunggu peralatan produksi yang dalam proses pemesanan. Diperkirakan awal tahun 2026 sudah mulai produksi,” rincinya.
PUDAM Tirta Katong selama ini melayani kebutuhan air minum penduduk di 16 kecamatan di Ponorogo. Sedangkan wilayah lima kecamatan lainnya, termasuk Sukorejo, Pudak, dan Ngrayun, belum terlayani karena sejumlah kendala. “Sumber air baku di wilayah-wilayah tersebut masih sulit dijangkau. Untuk daerah yang kering, seperti Slahung, kami baru bisa melayani sebagian kecil saja,” ujarnya.
Lardi menyebut wilayah dengan pengguna terbanyak berada di Kecamatan Jetis dengan konsumsi air mencapai 20 meter kubik per pelanggan per bulan. Sedangkan rata-rata konsumsi air di kawasan kota sekitar 15–16 meter kubik. “Tidak ada kendala dalam pencapaian laba perusahaan, lebih ke perilaku masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan air yang layak konsumsi,” tegasnya.

Kata Lardi, kualitas air PUDAM Tirta Katong teruji secara laboratorium. Sampel air produksi wajib diuji di laboratorium terakreditasi sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. “Kami juga memiliki laboratorium internal untuk deteksi dini perubahan kualitas air,” ucapnya.
Masih kata dia, biaya pengunaan air PUDAM sejatinya relatif murah. Namun, terasa mahal karena pembayaran rekening setiap bulan kalau pelanggan membagi biaya pengguaan air PUDAM diperhitungkan secara harian maka biayanya kisaran di bawah Rp 2.000 per hari . “Kami akan menerapkan sistem deposit bekerja sama dengan perbankan untuk meningkatkankan pelayanan dan mempermudah pelanggan,” pungkasnya. (kominfo/mey/nky)