Brigadir Luhur Ainul Fikri, Inisiator Grup Reog Suryo Netro Budoyo yang Pemainnya Tunanetra
KIPRAH Suryo Netro Budoyo tak lepas dari peran Brigadir Luhur Ainul Fikri. Bukan halangan bagi anggota Satlantas Polres Ponorogo itu mendampingi anak-anak Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo menampilkan pertunjukan reog secara utuh. “Ikut bahagia melihat mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan mampu menari dan memainkan gamelan dalam pertunjukan Reog Ponorogo,” kata Brigadir Luhur.

SEMANGAT: LUHUR Ainul Fikri sedang melatih anggota karawitan Seni Reog Netro Suryo Budoyo pada Jumat (21/11/2025) sore di Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo
Suryo Netro Budoyo terbentuk bermula dari rasa penasaran anak-anak penghuni panti asuhan tentang Reog Ponorogo. Brigadir Luhur datang mengajak mereka berbincang. “Saya tawari untuk berlatih reog, ada sekitar sepuluh anak yang tertarik,” terang laki-laki 30 tahun yang sudah menekuni kesenian Reog Ponorogo sebelum menjadi anggota Polri itu.
Seizin pengurus, Brigadir Luhur mulai sering datang ke Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo guna melatih reog. Sempat muncul keraguan dari sebagian penghuni panti apakah mampu menguasai tarian dan gamelan reog seperti anak-anak normal lainnya. Brigadir Luhur dengan sabar meyakinkan para anak latihnya. “Saya yakinkan akan berjalan baik-baik saja. Semuanya sudah disiapkan, mulai dari alat hingga pendampingan,” ungkapnya.
Suryo Netro Budoyo akhirnya berdiri Februari 2022 yang sudah unjuk kebolehan di sejumlah event. Salah satu penampilan paling mengesankan bertepatan dengan Hari Bhayangkara 2024 ketika Suryo Netro Budoyo pentas di depan kapolda dan gubernur Jatim. “Kapolda sampai menangis haru saat seorang anak tunanetra membaca puisi berjudul Kami Disabilitas Juga Bisa Melestarikan Reog dalam bahasa Jawa,” ungkap Brigadir Luhur.
Dia sekarang ini mendampingi 30 anggota Suryo Netro Budoyo yang berlatih setiap Jumat sore selama dua jam. Kapolres Ponorogo mendukung penuh grup reog dengan home base di Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo itu. “Bapak kapolres juga menyediakan fasilitas berupa gamelan, dadak merak, dan perlengkapan Reog Ponorogo lengkap,” terangnya.
Lebih dari sekadar berkesenian, aktivitas di Suryo Netro Budoyo juga meningkatkan kepercayaan diri anak-anak tunanetra. Mereka yang awalnya cenderung tertutup berangsur berani membuka diri setelah sering tampil dan berinteraksi dengan banyak kalangan, “Ini menyangkut nilai kemanusiaan, mereka yang memiliki keterbatasan juga berhak untuk berkarya dan melestarikan kesenian daerah,” ujar Brigadir Luhur.
Dia berharap grup reog disabilitas binaan Polres Ponorogo itu mendapat kesempatan tampil di event dengan skala lebih besar. Di Istana Negara atau bahkan pentas di luar negeri. “Membawa nama baik Ponorogo tentunya,” harap warga Desa Blemben Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo itu.

Terpisah, Kevin Rosaldo Maulana, anggota grup Suryo Netro Budoyo, mengaku menemukan kebahagiaan tersendiri setelah ikut menekuni kesenian reog. Kevin mendapat peran memainkan angklung dan belakangan mencoba berlatih dengan alat musik kendang dan kenong. “Awal-awal sempat bingung, akhirnya terbiasa juga setelah sering latihan,” aku siswa kelas X SMA Muhammadiyah Ponorogo itu.
Kevin tak ketinggalan ketika Suryo Netro Budoyo tampil di Alun-Alun Ponorogo, Mapolda Jatim, dan sejumlah event lainnya.Tidak ada perasaan minder, malah sebaliknya merasa bangga dan senang. “Meskipun kadang-kadang lelah harus latihan reog setelah pulang sekolah. Semangat muncul lagi karena suasana latihan yang menyenangkan,” ucapnya. (kominfo/mey/nky)