DLH Ponorogo Ajak Bapak Asuh Inspeksi Langsung Pohon Penghijauan
GERAKAN penghijauan di Ponorogo lewat program Nandur Panguripan terus berjalan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Komunitas Hijau Lestari secara temporer menginspeksi langsung kondisi bibit pohon yang selama ini ditanam.
“Kami ajak perwakilan perangkat daerah yang menjadi bapak asuh tanaman-tanaman penghijauan itu,” kata Ervina Nurdiyanti, kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di DLH Ponorogo, Selasa (2/12/2025).

REBOISASI: Tim Nandur Panguripan laksanakan rapat koordinasi tindak lanjut penanaman pohon.
Menurut dia, bapak asuh yang bertanggung jawab atas kondisi tanaman apakah tumbuh dengan baik, tumbuh lambat, atau mengalami kerusakan. Upaya itu bertujuan meningkatkan persentase hidup tanaman penghijauan yang selama ini mencapai 52 persen. “Data harus cocok dengan kondisi riil di lapangan. Keberhasilan program penghijauan sebenarnya bukan dari banyaknya pohon yang ditanam, tapi berapa tanaman yang bertahan hidup,” terangnya.
Ervina menyebut bahwa DLH sudah menyiapkan sekitar 20 ribu bibit untuk mengganti tanaman yang rusak atau mati. “Kami tidak ingin ada lahan yang ompong. Setiap pohon yang mati harus ada penggantinya,” tegasnya.
Bersamaan itu, pihaknya memajukan penanaman di lahan-lahan kritis memanfaatkan momentum musim hujan. Penghijauan di Desa Plalangan Kecamatan Jenangan dan Desa Sidoharjo Kecamatan Pulung sudah kelar dilakukan. Sedangkan Desa Wates yang mendapat suplai 300 bibit durian, nangka, dan alpukat dari DLH Jawa Timur akan menyusul dalam waktu dekat.
Ervina mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknis. Namun, juga mindset sebagian masyarakat yang masih menilai menanam pohon tidak memberikan manfaat ekonomi langsung. “Harusnya pertanian mengikuti hutan, bukan hutan mengikuti pertanian. Kalau pohon hilang, air tidak akan pulih. Dan kalau air tidak ada, pertanian justru makin sulit,” rincinya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Hijau Lestari Endang Widayati menilai kehadiran para bapak asuh tanaman di lapangan menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memberi contoh nyata kepada masyarakat. “Ini kerja bareng. Pemerintah hadir, masyarakat ikut melihat dan menilai. Kita harus tunjukkan bahwa menanam itu tindakan yang bernilai,” ucapnya.
Endang mengungkapkan, penghijauan bukan sekadar isu lingkungan. Melainkan berhubungan langsung dengan ekonomi, sosial, kesehatan, hingga kesejahteraan masyarakat. Dia meminta setiap temuan pohon mati segera dilaporkan agar proses penggantian berjalan cepat. “Pohon tumbuh, mata air pulih, pertanian mudah, masyarakat sejahtera. Itu tujuan akhirnya,” ungkap Endang. (kominfo/dna)