Kenali Batas Tubuh Saat Berolahraga, Istirahat Sebelum Ngos-Ngosan
ADVIS berharga tentang batasan berolahraga datang dari Eka Dewi Prastitisari, dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp KFR) di RSUD dr Harjono Ponorogo. Olahraga yang menyehatkan itu adalah dengan memahami batasan dan sinyal tubuh sendiri. “Kalau sudah merasa lelah, sebaiknya berhenti dulu. Menenangkan tubuh, baru melanjutkan berolahraga. Apapun aktivitasnya jangan sampai ngos-ngosan,” pesan Tisa –sapaan dokter Eka Dewi Prastitisari–, Kamis (18/12/2025).
Menurut dia, seseorang dengan riwayat sakit jantung, asma, atau trauma tulang perlu lebih berhati-hati dalam melakukan olahraga. Semua orang sejatinya boleh berolahraga, asalkan memulai dan mengakhirinya dengan pemanasan dan pendinginan. “Perlu juga diingat, jangan sampai mengalami kelelahan ekstrem atau kurang energi berkepanjangan,” ungkap dokter yang juga bergelar magister kedokteran klinik itu.

TELITI : dr. Eka Dewi Prastitisari, Sp.KFR , M.Med Klin meninjau hasil pemeriksaan radiologi pasien cedera tulang
Pun, terdapat patokan heart rate maximum (HR Max) berupa detak jantung tertinggi yang bisa dicapai jantung dalam satu menit saat beraktivitas fisik berat. Rumus sederhananya adalah 220 dikurangi usia. “Misalnya, seseorang berusia 30 tahun sebaiknya tidak melebihi 190 denyut per menit. Bila sudah mendekati, aktivitas sebaiknya dihentikan untuk menjaga keselamatan,” jelasnya.
Bagi para lanjut usia (lansia), Tisa menyarankan agar tetap aktif bergerak. Olahraga ringan seperti jalan kaki selama 20 menit, lima kali dalam seminggu, sangat dianjurkan. Bagi yang fisiknya lebih kuat, bersepeda atau berenang dapat menjadi alternatif. “Untuk kondisi tertentu, seperti lansia dengan penyakit degeneratif seperti osteoartritis, olahraga tetap diperbolehkan. Tetapi harus memperhatikan kondisi tubuh,” terangnya.
Menurut dia, penderita osteoartritis idealnya perlu menurunkan berat badan. Selain itu, membatasi aktivitas yang membebani sendi lutut seperti naik turun tangga. “Kalau terpaksa, gunakan kaki yang sehat saat naik tangga dan sebaliknya pakai naiki yang sakit saat turun tangga,” ungkapnya.

Tisa juga menyebut risiko cedera olahraga mungkin saja terjadi yang tergantung jenis olahraga yang dilakukan. Namun, dia menekankan bahwa risiko cedera tidak boleh menghentikan kebiasaan berolahraga. Penanganan cedera sederhana dapat dilakukan dengan elastic bandage, istirahat satu hingga tiga hari, serta kompres es beberapa kali sehari. “Setelah itu, lakukan. gerakan ringan untuk melatih otot dan mempercepat pemulihan,” ujarnya.
Tisa menegaskan olahraga tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Aktivitas seperti lari, jalan, senam, hingga fitness tetap aman selama memperhatikan kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri. “Dengan memahami batas tubuh dan menjalani olahraga secara aman, masyarakat akan lebih bersemangat menjaga kesehatan dengan tetap aktif di segala usia,” pungkasnya. (tim kominfo)