Berat Badan Naik Saat Puasa Ramadan, Ini Tips Ahli Gizi RSUD dr Harjono Ponorogo

POLA makan sahur dan berbuka puasa bakal lebih detail jika berhadapan dengan ahli gizi. Yunita Dwi Noviandri, ahli gizi di RSUD dr Harjono Ponorogo, membagi advis agar tubuh tetap bugar selama menunaikan ibadah puasa Ramadan. “Ketika sahur sebaiknya mengonsumsi makanan yang tinggi protein dan serat supaya kenyangnya lebih lama. Selain itu, makanan yang berprotein pemecahan energinya juga lebih lambat sehingga tidak cepat lapar,” kata Yunita, Sabtu (7/3/3/2026).

Menurut dia, kebutuhan cairan seyogianya tidak luput dari perhatian. Ketika selama 12 jam tidak mendapatkan asupan cairan, maka tubuh perlu mendapatkan pemenuhan kebutuhan air sejak waktu berbuka hingga sahur. “Idealnya kebutuhan cairan sekitar dua liter per hari atau setara delapan gelas” jelasnya.

Yunita menyarankan asupan gizi yang seimbang sejak sahur hingga berbuka agar tubuh tidak lemas dan tetap bertenaga. Apalagi, mayoritas masyarakat beraktivitas normalmketika berpuasa. “Bagi yang menjalankan aktivitas berat perlu memperbanyak konsumsi karbohidrat dan protein saat sahur. Yang tidak kalah penting adalah memastikan asupan cairan tetap terpenuhi minimal dua liter sehari,” terangnya.

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

Dia juga memberikan tips berbuka puasa dengan mengawali minum air putih dan penganan manis secukupnya seperti buah kurma. Kandungan gula sederhana pada kurma dapat membantu tubuh memulihkan energi setelah seharian menahan makan dan minum. “Kurma mengandung gula sederhana yang mudah dicerna sehingga bisa membantu proses pemulihan energi setelah sekitar 12 jam berpuasa, tetapi tetap tidak membuat gula darah melonjak secara drastis,” ungkapnya.

Selepas itu, berlanjut mengonsumsi camilan ringan sebelum makan besar setelah salat Magrib. Menu makan utama sebaiknya tetap mengandung gizi seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, serat, hingga lemak dalam jumlah yang cukup. “Hindari makan gorengan dan minuman manis secara berlebihan. Minuman yang mengandung gula berlapis justru bisa membuat tubuh lebih cepat,” ungkapnya.

Yunita juga menganjurkan agar membatasi makanan yang terlalu asin. Sebab, garam memiliki sifat mengikat air di dalam tubuh sehingga dapat memicu rasa haus selama berpuasa. “Kurangi makanan dan minuman manis serta yang tinggi garam,” ujarnya.

Dia mengingatkan pula kecenderungan kenaikan berat badan tatkala seseorang menjalan puasa Ramadan akibat konsumsi makanan dan minuman manis yang berlebihan saat berbuka. “Sering kali orang menahan lapar seharian, lalu saat berbuka jadi makan berlebihan. Ditambah minuman manis yang kalorinya tinggi, akhirnya kalori yang masuk lebih banyak daripada yang dibakar,” urainya.

Masih kata dia, apabila pola makan selama Ramadan dijaga dengan baik dan seimbang, maka puasa justru dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. “Puasa sebenarnya memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat. Jika pola makan saat sahur dan berbuka tetap sehat dan seimbang, puasa bisa menjadi proses detoks alami bagi tubuh,” pungkasnya. (kominfo/mey/nky)