FNRP 2026 Diikuti 32 Kontingen, Reog Kampus dan Sekolah Nominator Juara

PETA kekuatan peserta Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI/2026 tampaknya belum banyak bergeser. Mayoritas grup reog asal Ponorogo dan luar daerah yang meraih predikat 10 penyaji terbaik dalam FNRP XXX tahun lalu bakal kembali tampil. Satu posisi bakal diperebutkan setelah Reog Brawjijaya (Universitas Brawijaya), pemegang Piala Bergilir Presiden, dipastikan absen.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mencermati kecenderungan grup reog penyaji terbaik FNRP XXX berasal dari perguruan tinggi (kampus) dan sekolah menengah atas (SMA) sederajat. Sebut saja penyaji terbaik 1 hingga 4 yang masing-masing ditempati Reog Brawijaya, Gajah Manggolo (SMAN 1 Ponorogo), Taruno Suryo (SMA Muhammadiyah Ponorogo), dan Reog Watoe Dakon (UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo).
“FNRP yang selalu berbarengan dengan Festival Reog Remaja (FRR) merupakan bagian dari upaya pelestarian kesenian Reog Ponorogo yang telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda,” kata Judha saat membuka technical meeting (TM) FRR XXII dan FNRP XXXI di Gedung Kesenian Ponorogo, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, pengakuan UNESCO itu membawa konsekuensi pembinaan, pengembangan, dan pewarisan kesenian Reog Ponorogo kepada generasi penerus. “Kepada siapa lagi kita menitipkan keberlangsungan seni adiluhung ini kalau tidak kepada generasi muda,” tanya balik Judha.

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

Dia juga mengapresiasi keikutsertaan grup reog asal luar daerah yangselama ini andil membesarkan FNRP. Paguyuban Warga Ponorogo (Pawargo) Yogyakarta dan Pawargo DKI Jakarta kembali mengirim kontingen untuk merebut gelar 10 penyaji terbaik. “FNRP yang memasuki penyelenggaraan ke-31 dan masuk Karisma Event Nusantara (KEN) lima tahun berturut-turut sejak 2022 hingga 2026 tidak lepas dari dukungan para pegiat Reog Ponorogo dari berbagai daerah di Indonesia,” tegasnya.

FRR XXII akan berlangsung pada 7 hingga 11 Juli 2026 dirangkai dengan FNRP XXXI (11-14 Juli) di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo. Dari 32 peserta FNRP tahun ini, tercatat kontingen dari Surabaya, Wonogiri, Nganjuk, Surakarta, dan Palembang. Sedangkan 23 peserta FRR XII, satu kontingen berasal dari Sragen.

Sementara itu, Marji, tim perumus juknis, menjelaskan bahwa seluruh peserta FRR maupun FNRP wajib menampilkan Reog Ponorogo versi Bantarangin dengan jumlah minimal 26 penari. Seluruh pelaku tari wajib mengenakan busana dan perlengkapan sesuai karakter masing-masing. “Durasi pertunjukan dibatasi maksimal 20 menit. Khusus topeng Pujangganong wajib memiliki bibir lengkap dan tidak bertaring,” jelasnya.

Menurut Marji, penilaian festival meliputi tiga aspek utama, yakni kepenarian, garap dan kreativitas, serta garap musik dan harmonisasi iringan. Pada aspek kepenarian, dewan juri akan menilai keterpaduan wiraga, wirama, dan wirasa dari seluruh komponen tari, mulai Warok, Jathil, Pujangganong, Klono Sewandono hingga Singobarong Dadak Merak. Sedangkan aspek garap dan kreativitas mencakup ide, konsep, pendekatan garap, keragaman gerak, alur pertunjukan, hingga keterpaduan seluruh unsur pertunjukan. “Proses penilaian dilakukan secara profesional oleh dewan pengawas dan dewan juri yang terdiri dari budayawan, penggiat budaya, serta ahli seni pertunjukan Reog Ponorogo,” ujarnya. (kominfo dna/ast)