Buceng Durian, Ikan Segar, dan Buah 2 Kuintal Semarakkan Larungan Telaga Ngebel
PAMUNGKAS prosesi Grebeg Suro di Ponorogo selalu mengambil venue di Telaga Ngebel. Buceng agung berupa tumpeng besar berisi beras merah dilarung di tengah telaga tepat 1 Muharam 1448 Hijriah pada Selasa (16/06/2026). Larungan Telaga Ngebel mampu menyedot pengunjung yang memadati kawasan telaga seluas 160 hektare itu.
Acara semakin semarak dengan arak-arakan 23 buceng yang di antaranya berisi gunungan durian, ikan segar, dan tumpeng buah-buahan seberat 200 kilogram. Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan Larungan Telaga Ngebel merupakan warisan budaya yang sarat nilai filosofis, religius, moral, dan edukatif. Tradisi yang lama terawat di tengah masyarakat itu membuktikan bahwa budaya lokal mampu bertahan dan berkembang serta memberikan manfaat.
“Pemerintah Kabupaten Ponorogo berkomitmen mengimplementasikan program pelestarian sekaligus mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif. Kita sudah sepakat bahwa Larungan Telaga Ngebel sebagai aset budaya” kata Bunda Lis –sapaan Lisdyarita– saat mengawali larungan.

Bunda Lis menyebut hakikat Larungan Telaga Ngebel sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan berkah yang diberikan Tuhan berupa hasil bumi, olah perikanan, dan beragam potensi kekayaan alam di kawasan Ngebel. “Larungan Telaga Ngebel memiliki dua aspek penting, yaitu aspek kehidupan spiritual religius dan aspek sosial budaya,” jelasnya.
Menurut bupati perempuan pertama di Ponorogo itu, Larungan Telaga Ngebel menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Ribuan pengunjung yang datang memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, para pedagang, serta jasa wisata di kawasan Telaga Ngebel. “Muncul peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif serta menguatkan citra dan identitas budaya daerah. Terciptanya iklim inovasi akan membawa dampak bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,” urai Bunda Lis.

Sementara itu, Fibi Chandra, sekretaris panitia Larungan Telaga Ngebel 2026, mencatat tampilan arak-arakan 23 buceng semakin kreatif. Masyarakat secara mandiri menyusun tumpeng dari bahan hasil bumi, beragam buah, dan ikan segar. “Ada tiga buceng yang dibuat dari 2.236 buah, termasuk 282 buah durian. Satu buceng durian tersusun dari 189 buah buah,” rincinya.
Isi buceng-buceng itu dipurak (diperebutkan) di depan dermaga setelah diarak berkeliling telaga. Kecuali buceng durian karena kulit buahnya yang tajam. “Keterlibatan aktif masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi Larungan Telaga Ngebel dari tahun ke tahun,” ujarnya. (kominfo/mey)