Menteri Desa Antusias Sambut Program Desa Binaan Agro Tourism Inisiasi Unida Gontor
PELUNCURAN dua program baru di Universitas Darussalam (Unida) Gontor mengundang kedatangan pejabat sekelas menteri ke Ponorogo, Rabu (8/7/2026). Program Desa Binaan Agro Tourism langsung disambut antusias Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto. Unida dalam manandai miladnya yang ke-63 serta peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor juga meluncurkan Sekolah Wakaf Berkah Indonesia.
“Program Desa Binaan Agro Tourism yang diluncurkan Unida beririsan dengan tugas Kementerian Desa. Saya yakin apabila mahasiswa berkolaborasi dengan Kementerian Desa, InsyaAllah akan lahir banyak generasi hebat yang memberi manfaat besar bagi bangsa,” kata Yandri dalam acara di hall lantai 4 Gedung Terpadu Unida Gontor yang juga dihadiri Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita itu.
Yandri menjelaskan, Indonesia sekarang ini memiliki 75.266 desa dengan kondisi yang sangat beragam. Dari jumlah itu, sekitar 9.300 desa masih berstatus tertinggal dan sangat tertinggal. Sedangkan desa mandiri baru mencapai sekitar 20.503 desa atau kurang 30 persen dari total desa di Indonesia. “Presiden Prabowo Subianto menetapkan Asta Cita keenam, yaitu membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan. Desa tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek pembangunan,” jelasnya.

Menurut dia, Kementerian Desa menjalankan Program 12 Aksi Bangun Desa – Bangun Indonesia yang mencakup penguatan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, desa tematik ketahanan pangan, desa ekspor, desa wisata, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat. “Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan berbagai program ini berjalan berkelanjutan,” ungkapnya.
Yandri menyebut implementasi Tridharma Perguruan Tinggi memungkinkan mahasiswa berpartisipasi aktif mengembangkan potensi desa lewat kuliah kerja nyata (KKN). “Kementerian Desa siap berkolaborasi agar pendampingan terhadap desa tidak berhenti setelah KKN selesai,” ungkapnya.
Dia mencontohkan sejumlah desa yang berhasil menembus pasar internasional melalui pengembangan potensi lokal. Di antaranya, BUMDes Desa Ngoran Kabupaten Blitar yang mampu meraih pendapatan sekitar Rp 17,5 miliar per tahun melalui ekspor kendang jimbe. Selain itu, ekspor gula aren dari Desa Temon ke Australia, Malaysia, dan Belanda, serta ekspor ikan koi dari Cadasari, Pandeglang, ke Kanada, Prancis, dan Inggris. “Membuktikan bahwa produk desa mampu menembus pasar internasional secara langsung sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat. Saat ini produk desa Indonesia telah menjangkau sekitar 49 negara tujuan ekspor,” jelasnya.
Yandri mengajak mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja. Sebaliknya, mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui pengelolaan potensi desa secara profesional. “Jangan hanya bercita-cita mencari pekerjaan, tetapi jadilah pencipta lapangan kerja. Desa memiliki potensi yang luar biasa. Tinggal bagaimana mengelola potensi tersebut secara profesional agar mampu menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan berdaya saing di pasar nasional maupun internasional,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Unida Hamid Fahmy Zarkasyi menyampaikan bahwa semangat pengabdian kepada masyarakat telah menjadi bagian dari sistem pendidikan di kampusnya. Pihaknya bakal lebih getol mendampingi desa dalam mengembangkan potensi pariwisata yang mengintegrasikan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, atau perikanan sebagai daya tarik utama. “Setiap tahun mahasiswa Unida melaksanakan KKN di 75 desa. Total sudah sekitar 780 desa yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa,” ujarnya.

Menurut Hamid, tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan program setelah mahasiswa selesai melaksanakan KKN. Karena itu, dia mengusulkan adanya sinergi yang lebih kuat dengan Kementerian Desa melalui peluncuran program Desa Binaan Agro Tourism. “InsyaAllah mahasiswa Unida siap mendampingi masyarakat desa dalam mengembangkan agro tourism,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Unida Gontor Hasan Abdullah Sahal menekankan pembangunan desa maupun pembangunan bangsa harus selalu berpijak pada nilai-nilai Islam. Kata dia, kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. “Semua universitas harus dipondokkan. Artinya, di situlah berkumpulnya para ilmuwan dalam suatu pendidikan yang holistik, pendidikan yang benar-benar dituntun oleh apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Sehingga insinyur-insinyur, dokter-dokter, dan berbagai profesi lainnya selalu menghubungkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” urainya.
Hasan Sahal juga mengingatkan bahwa tantangan zaman tidak boleh membuat masyarakat meninggalkan nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup. “Yang penting adalah tanggung jawab dan nilai-nilai. Mau menjadi ekonom, dokter, politikus, atau apa pun, nilai-nilai tidak boleh berubah,” pungkasnya. (kominfo/mey)