Lancar Membaca Belum Cukup, Anak Perlu Paham Isi Bacaan dan Analisa Masalah
KEMAMPUAN literasi dan numerasi perlu semakin diasah sejak jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD). Apalagi, rentangan usia 0-6 tahun itu merupakan masa emas bersamaan otak anak berkembang pesat. “Banyak hal yang bisa ditanamkan, termasuk pengenalan pra-membaca, pra-menulis, dan pra-berhitung,” kata Yeni Widiastuti, kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non-Formal di Dinas Pendidikan Ponorogo, Rabu (20/11/2024).

Dia sempat menggarisbawahi bahwa anak usia dini sebenarnya tidak wajib menguasai kemampuan baca, tulis, dan berhitung (calistung). “Lebih penting dari calistung adalah pemahaman anak terhadap bacaan dan konsep sederhana matematika,” terangnya.
Menurut Yeni, dunia pendidikan sekarang ini dihadapkan pada krisis literasi peserta didik di jenjang pendidikan lebih tinggi. Banyak peserta didik yang sudah lancar membaca, namun tidak memahami konteks bacaan. Karena itu, Dinas Pendidikan Ponorogo getol mendorong terlaksananya program literasi dan numerasi sejak tingkat PAUD. “Kita bangun tradisi membaca dengan menyediakan pojok buku, membacakan cerita kepada peserta didik, kemudian kita dampingi mereka agar dapat memahami nilai yang terkandung di dalamnya,” jelas Yeni.
Sedangkan pendidikan numerasi di tingkat PAUD, lanjut Yeni, merupakan pengetahuan dasar yang akan melatih anak untuk menganalisa masalah dalam kehidupan sehari-hari. “Membedakan ukuran, mengenali bentuk, mengelompokkan benda, dan kegiatan sederhana lain dapat mengasah kemampuan estimasi anak,” ungkapnya.
Pun, baik pendidikan literasi maupun numerasi di tingkat PAUD harus menerapkan metode belajar yang menyenangkan. Selain itu, memperhatikan keberagaman peserta didik. Prinsip belajar anak usia dini adalah merasa bahagia dalam belajar. “Karena fitrah anak usia dini adalah bermain. Ciptakan suasana nyaman, anak yang bahagia akan lebih mudah menyerap ilmu,” pungkasnya. (tim kominfo)