Kang Giri Puji Judha, Yakin Mampu Bentuk Ekosistem Pariwisata Ponorogo
PERFORMA Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo paling mengilap akhir-akhir ini. Dinas yang dipimpin Judha Slamet Sarwo Edi itu sukses mengantarkan Reog Ponorogo mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda (WBTb) melalui penetapan dari UNESCO dalam sesi sidang ke-19 di Paraguay, pada 3 Desember lalu. Disbudparpora juga berhasil mengupayakan Ponorogo meraih predikat 2 besar Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif Nasional sehingga Kemenparekraf mengusulkan masuk Jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Selain itu, Disbudparpora juga berhasil membawa Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) menjadi bagian dari Karisma Event Nusanata (KEN) selama empat tahun berturut-turut dan sempat menjadi event terbaik urutan 2 Top Ten Event dari 110 event yang diselenggarakan di seluruh Indonesia. Ingin menyusul FNRP, saat ini Disbudparpora juga tengah mengusung Ponorogo Kreatif Festival (PCF) agar menjadi bagian dalam Karisma Event Nusantara (KEN).
‘’Pak Judha keren, budaya dan pariwisata Ponorogo juga keren,’’ puji Bupati Sugiri Sancoko bersamaan rapat koordinasi teknis (rakortek) rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Ponorogo Tahun 2025-2029 di Ruang Bantarangin, Selasa (15/04/2025). Bupati Ponorogo dua periode itu yakin Judha mampu mengawal ekosistem wisata. ‘’Ponorogo pernah punya pesantren tertua yang menjadi rujukan kurikulum pesantren di Indonesia yaitu Gebang Tinatar Tegalsari. Kita poles potensi ini menjadi episentrum sehingga muncul ekosistem parwisata baru,’’ imbuh Kang Giri.
Bupati Ponorogo dua periode itu berhitung jumlah wisatawan yang berkunjung dengan daya tarik kesenian reog, event budaya, dan sejumlah destinasi wisata. Kang Giri memandang wisata bukan sekadar adanya gelaran event maupun tempat tujuan pelesir. Melainkan hal holistik yang mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. ’’Ciptakan pengalaman yang bermakna bagi wisatawan yang berkunjung ke Ponorogo. Bagaimana keramahan penduduk, warung-warung menjanjakan sesuatu yang tastenya kuat dengan harga terjangkau serta senyum ramah masyarakat juga penting,” jelasnya.
Menurut suami Susilowati itu, tingginya tingkat kunjungan wisata ke Ponorogo bakal berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Pun, punya andil besar menyokong pendapatan asli daerah (PAD). Kang Giri ambil contoh kunjungan wisatawan ke Telaga Ngebel bersamaan libur Lebaran 2025 yang memberi pemasukan ke kas daerah senilai Rp 400 juta. ‘’Intensitas event di kawasan Telaga Ngebel mampu mendongkrak tingkat kunjungan naik dua kali lipat,’’ ungkap Kang Giri.

Sementara itu, Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi sudah menyiapkan konsep menggarap objek wisata baru. Di antaranya, Air Terjun Banaran, wisata arkeologis Goa Lawa, Waduk Bendo, serta penataan destinasi wisata unggulan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP). ‘’PAD pasti meningkat kalau sejumlah destinasi wisata itu tergarap dengan baik,’’ tegas laki-laki bermisai lebat itu.
Judha dalam paparannya di depan panelis utama Sugiri Sancoko juga menyorongkan proyeksi sumbangsih disbudparpora agar PAD Ponorogo menyentuh nominal keramat Rp 1 triliun pada 2029 mendatang. Secara berturut sebesar Rp 6,5 miliar pada 2025, Rp 7,6 miliar (2026), Rp 9 miliar (2027), Rp 10,6 miliar (2028), dan Rp 12,5 miliar pada 2029 mendatang. ‘’Target yang realistis kalau ekosistem pariwisata sudah terbentuk,’’ tegasnya. (kominfo/ast/nky)