Target Dindik Ponorogo Luluskan 500 Warga Belajar Paket Setara SD, SMP, SMA, Tahun Depan

SEMAKIN kecil peluang putus sekolah di Ponorogo. Sebab, ada 12 lembaga pendidikan kesetaraan yang siap menerima peserta didik baru bersamaan tahun ajaran 2025/2026. Pendidikan kesetaraan paket A (setara jenjang SD), paket B (setara SMP), dan paket C (setara jenjang SMA) itu resmi meluluskan 417 warga belajar –sebutan bagi peserta didik di lembaga pendidikan kesetaraan– pada awal Juli 2025 ini.

FOTO : DOKUMENTASI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PONOROGO

“Seluruh lembaga pendidikan kesetaraan yang tersebar di sejumlah kecamatan itu berada di bawah binaan dinas pendidikan,” kata Fatarul Kardiyanto, sub Koordinator Pendidikan Non Formal di Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, Jumat (4/7/2025). Rincian selusin lembaga pendidikan kesetaraan itu terdiri dari 11 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang dibentuk oleh masyarakat serta satu sanggar kegiatan belajar (SKB) sebagai unit pelaksana teknis Dindik Ponorogo.

Menurut Fatarul, pendidikan kesetaraan bukan sekadar alternatif. Namun, dapat menjadi solusi nyata untuk mengatasi persoalan putus sekolah dan keterbatasan akses pendidikan bagi masyarakat. “Tujuan utamanya adalah memberikan kesempatan belajar kepada semua masyarakat, termasuk bagi mereka yang harus bekerja, warga dewasa, hingga penyandang disabilitas,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah pendirian PKBM inklusif pertama di Ponorogo bagi anak berkebutuhan khusus. Lembaga ini sebelumnya merupakan rumah terapi milik Echo Kitchen yang kini diarahkan menjadi PKBM. “Peserta didik sudah ada, tinggal penyelesaian administrasi dapodik. Untuk disabilitas, kurikulumnya juga disesuaikan,” terang Fatarul.

Berbeda dari sekolah formal, pendidikan kesetaraan di PKBM menerapkan sistem belajar yang fleksibel. Tatap muka minimal dilakukan dua kali per bulan, dengan tambahan metode daring (dalam jaringan). Meskipun demikian, standar mutu tetap diterapkan secara ketat, mulai dari kurikulum, ujian modul, hingga pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK). Ijazah yang diperoleh pun setara dengan sekolah formal.

Fatarul berani menjamin ijazah pendidikan kesetaraan paket A, paket B, dan paket C itu dapat untuk melanjutkan sekolah atau melamar pekerjaan. “Ijazahnya sama seperti sekolah formal. Banyak lulusan PKBM yang berhasil melanjutkan pendidikan ke SMA negeri atau kuliah di perguruan tinggi,” tegasnya.

Dindik Ponorogo pasang target pendidikan kesetaraan mampu meluluskan 500 warga belajar pada  2026 mendatang.  Pihaknya getol menjaring calon warga belajar baru dengan mendata langsung ke desa-desa. Penilik lapangan yang mendapat tugas khusus untuk pendataan itu. “Kami ingin memastikan masyarakat di 21 kecamatan yang membutuhkan akses pendidikan dapat terlayani semua. Agar tidak ada lagi anak yang berhenti sekolah,” ujarnya. (kominfo/mey/nky)