Tim Percepatan Penanggulangan Kejar Target Temuan dan Penyembuhan Pasien TBC di Ponorogo
PENANGGULANGAN tuberkolosis (TBC) di Ponorogo terus digencarkan. Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB) mengambi peran lebih untuk menemukan penderita dan mengobatinya sampai sembuh. Target akhirnya adalah penurunan 90 persen kasus sehingga tinggal tersisa 10 persen pasien TBC pada 2030 mendatang.

KOORDINASI : Rapat kordinasi Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB) Ponorogo berlangsung di hall Hotel Gajah Mada, Senin (28/7/2025).
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti mengungkapkan bahwa Pemerintah Pusat menargetkan setiap daerah menemukan temuan kasus baru TBC melalui tracing (pelacakan) yang gencar. Ponorogo sedang mengejar target temuan itu kendati kasus TBC cenderung menurun. “Setiap hari Selasa kita dievaluasi dan dipantau oleh Pemerintah Pusat melalui zoom meeting terkait perkembangan penanggulangan TBC,” kata Dyah Ayu dalam rapat koordinasi TP2TB di hall Hotel Gajahmada, Senin (28/7/2025).
Pemerintah memberi perhatian serius karena Indonesia menempati urutan kedua jumlah penderita TBC tertinggi di dunia setelah India. Kadinkes menjelaskan TP2TB melibatkan sejumlah perangkat daerah hingga tingkat desa dan kelurahan untuk menemukan kasus TBC dan ikut mendukung pengobatan pasien. “Semakin cepat ditemukan kasus, semakin cepat diobati, semakin cepat sembuh, dan risiko penularan dapat ditekan,” jelasnya.
Menurut dia, upaya penyembuhan berjalan maksimal karena fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta bersatu padu untuk menemukan serta mengobati semua pasien TBC sampai sembuh. Dia berharap banyaknya temuan kasus baru berbarengan dengan upaya penyembuhan dapat menekan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis itu di Ponorogo.
“Petugas akan melakukan pemeriksaan sampel dahak kalau menemukan terduga yang mengalami batuk tidak kunjung sembuh, berkeringat di malam hari, sesak nafas, dan nyeri dada,” ungkapnya.

Masih kata Kadinkes, pemicu TBC bukan hanya dari faktor kesehatan. Kondisi rumah tidak layak huni dengan tingkat kelembaban tinggi dan kebiasaan buruk masyarakat ikut menjadi penyebab. Peran TP2TB yang melibatkan sejumlah perangkat dan lintas sektor menjamin upaya penanggulangan TBC lebih efektif. “Penanggulangan TBC sudah menjadi tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (kominfo/win)