Sekda Agus Pram Sebut Tantangan Penanganan Stunting di Ponorogo Saat Dana Transfer Turun Tajam

AUDIT ketat stunting diterapkan secara periodik kendati prevalensinya di Ponorogo menunjukkan penurunan tajam. Bahkan, data internal terkini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mencatat kasus gagal tumbuh pada anak balita akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi itu tinggal di angka 8,07 persen. Sekretaris Daerah (Sekda) Agus Pramono sempat mengungkap perbedaan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang mencatat prevalensi stunting di Ponorogo masih 13,4 persen. ‘’Ketidaksesuaian data ini dapat diklarifikasi di forum nasional,’’ kata Agus Pram –sapaan Sekda Agus Pramono—dalam rapat evaluasi di hall Hotel Gajahmada Ponorogo, Selasa (19/8/2025).

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

Agus Pram lebih menekankan tantangan efisiensi anggaran dalam penanganan stunting. Sebab, transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah yang semula senilai Rp 900 triliun tahun ini bakal turun drastis menjadi Rp 600 triliun pada 2026 mendatang. “Meskipun dana transfer menurun, tidak boleh menjadi alasan upaya penanganan stunting untuk melemah. Justru kita harus makin kreatif dan solid, Pak Bupati tidak pernah berhenti mencari solusi untuk meningkatkan pendapatan daerah,” jelasnya.

Agus Pram menegaskan bahwa stunting bukan semata masalah gizi, melainkan terkait dengan kesejahteraan dan masa depan generasi bangsa. Karena itu, dia mengharapkan peran serta para camat, kepala puskesmas, penyuluh KB, tenaga kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan dari lintas sektor yang hadir dalam rapat evaluasi. ‘’Yang akan menyelesaikan masalah stunting bukan orang luar, tapi kita semua yang ada di ruangan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Ponorogo Henry Indra Wardhana menyebut kunci keberhasilan penurunan prevalensi stunting selama ini adalah perubahan pola pikir masyarakat. Pelaksanaan sejumlah program seperti Kampung Berkualitas dan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) ikut andil mengubah pola pikir itu. Paling baru adalah program BESTI PREN yang akronim dari Bumil Sehat, Stunting Turun didampingi Pendamping Keren.

‘’Intervensi juga menyentuh remaja dengan gerakan pemberian tablet tambah darah dan kampanye anti pernikahan dini yang digerakkan oleh Duta Genre,’’ ungkap Henry sembari menyebut Ponorogo meraih capaian besar karena mampu menekan prevalensi stunting dari 21 persen pada 2021 silam hingga akhirnya tinggal 8,07 persen. (kominfo/art)