Ponorogo Jadi Inspirator Kota-Kota di Indonesia yang Ingin Raih UCCN
FORUM Creative Cities Connect (CCC) 2025 akhirnya mempertemukan titik hubung Ponorogo dengan Jejaring Kota Kreatif UNESCO lainnya. Di antaranya, Ponorogo dengan Kota Ambon sebagai kota musik serta Ponorogo dengan Kota Jinju, Korea Selatan, sebagai kota seni pertunjukan.
“Kami mendorong kerja sama konkret yang berdampak langsung bagi pelaku kreatif, seniman, dan masyarakat. Fokus utamanya pada pertukaran talenta, kolaborasi produksi seni, hingga peluang investasi ekonomi kreatif,” kata Ketua Focal Point Ekonomi Kreatif Ponorogo Veri Setiawan.

INSPIRASI : Ketua Focal Point Ekonomi Kreatif Ponorogo, Veri Setiawan, paparkan pengembangan Ekosistem Kreatif Ponorogo City berbasis budaya Reog dalam Forum Creative Cities Connect (CCC) 2025 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta.
Veri angkat bicara dalam forum CCC yang diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Jumat (12/12/2025). Turut hadir di forum itu, Tenaga Ahli Madya Kedeputian V Kantor Staf Presiden serta para kepala daerah se-Indonesia. CCC sejatinya ajang pertemuan tujuh kota di Indonesia yang menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO.
Menurut Veri, kerja sama antar-anggota UCCN itu diarahkan pada pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik (knowledge exchange), pengembangan talenta kreatif lintas negara, hingga pembukaan peluang kerja sama ekonomi dan kebudayaan yang saling menguntungkan. “Ponorogo menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di Indonesia,” jelasnya.
Bahkan, Ponorogo menjadi inspirator nasional bagi daerah-daerah yang sedang membangun ekosistem ekonomi kreatif menuju UCCN berdampingan dengan Kota Malang sebagai Kota Media Arts Dunia dan Kota Bandung sebagai Kota Desain Dunia. “Pengembangan ekonomi kreatif di Ponorogo bertumpu pada kekuatan budaya lokal, khususnya Reog Ponorogo,” terang Veri.

Reog Ponorogo, lanjut dia, tidak hanya diposisikan sebagai identitas budaya. Namun, juga sebagai lokomotif ekonomi kreatif daerah. “Budaya Reog tidak bisa berdiri sendiri tapi harus ditopang kolaborasi multisektoral yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas kreatif, pelaku budaya, hingga regulasi yang berpihak,” ungkapnya
Sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang memperoleh dua pengakuan UNESCO, Ponorogo menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan dan relevansi dalam jejaring kota kreatif dunia. Penguatan kerja sama internasional dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Harapannya, jejaring kota kreatif Indonesia terus berkembang, saling menguatkan, dan mampu menjadi kekuatan baru dalam diplomasi budaya dan ekonomi kreatif global,” pungkas Veri. (tim kominfo)