Minat Baca di Ponorogo Kategori Sedang, Keluarga Jadi Faktor Penentu

TINGKAT kegemaran membaca masyarakat Ponorogo masih fluktuatif. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo mencatat indeks kegemaran membaca dengan skor 58,7 pada 2022, turun menjadi 57,1 (2023), dan kembali naik tipis menjadi 57,4 pada 2024.

“Kalau dibandingkan indeks tahun 2020 yang hanya 42, skor pada tahun tahun-tahun terakhir sudah menggembirakan. Kegemaran membaca di Ponorogo masuk kategori sedang,” kata Kepala Bidang Layanan dan Informasi dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo Sari Windrawati, Kamis (18/12/2025).

FOTO : PERPUSIP PONOROGO
Tumbuhkan budaya baca melalui perpustakaan keliling yang menghadirkan akses buku langsung ke sekolah

Menurut dia, faktor keluarga jadi salah satu faktor utama yang memengaruhi minat baca. Selain itu, interaksi dengan teman sebaya atau peer group juga memiliki pengaruh besar. “Kalau anak-anak berteman dengan sebayanya yang suka membaca atau tergabung dalam komunitas baca dan menulis, maka minat bacanya akan tumbuh,” terangnya.

Di tengah tantangan era serba cepat dan masifnya paparan gawai, Sari menilai minat baca tidak bisa muncul secara instan. Perlu upaya menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini dengan menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan. Untuk itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo rutin mengadakan program perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah, serta program Getuk Golan atau Gerakan Bertutur Keliling, Games, Outbound, dan Literasi Anak sebagai fasilitas kemudahan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan. “Menariknya, antusiasme anak-anak di desa sangat tinggi saat perpustakaan keliling datang. Dari situ mereka mengetahui bahwa ada layanan perpustakaan yang bisa dimanfaatkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Read Aloud Ponorogo Maria Kurniawati sependapat jika lingkungan keluarga memegang peran paling krusial dalam membentuk minat baca. Budaya membaca tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah atau komunitas, melainkan harus dimulai dari rumah. “Dari kebiasaan yang dicontohkan langsung oleh orang tua,” jelasnya.

Masih kata dia, orang tua yang sadar pentingnya membaca akan berupaya membuka akses bacaan bagi anak-anaknya. Mulai melalui buku fisik, memanfaatkan perpustakaan daerah, maupun perpustakaan digital. “Tidak selalu harus dengan membeli buku. Perpustakaan sudah membuka dunia membaca yang sangat luas,” ujarnya.

Maria menambahkan, anak yang telah memiliki kebiasaan membaca justru mampu mempertahankan minat bacanya. Bahkan, menularkannya ke lingkungan sekitar, meski berada di situasi yang kurang mendukung. “Usia anak tidak serta-merta berbanding lurus dengan jenjang baca. Anak yang terbiasa membaca dapat memiliki kemampuan membaca di atas usianya. Sementara anak usia lebih besar bisa jadi masih berada pada jenjang baca yang lebih rendah jika tidak terbiasa,” ungkapnya.

Maria menyarankan untuk membuat momen membaca jadi lebih menyenangkan sedari dini. Salah satunya adalah dengan membaca nyaring sebagai upaya membangkitkan minat dan pemahaman anak.
Dia menilai budaya membaca yang menyenangkan akan membawa dampak signifikan bagi perkembangan anak “Terutama dalam keberanian mengemukakan pendapat dan kemampuan berpikir kritis. Gerakan literasi masih perlu terus diperjuangkan oleh semua pihak,” pungkasnya. (tim kominfo)