Bunda Lis Targetkan Nihil Kasus Baru Stunting, serta Kematian Ibu dan Bayi di Ponorogo
PREVALENSI stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB) selalu menjadi bahan evaluasi dalam koordinasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Ponorogo. Tanpa kecuali, ketika Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo menggelar koordinasi secara periodik dengan perwakilan seluruh puskesmas dan rumah sakit itu di hall Hotel Gajah Mada, Kamis (12/2/2026).
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita sempat berharap zero case atau nol kasus baru untuk stunting, AKI, dan AKB pada 2026. Pihaknya selama ini sudah melakukan beragam daya upaya untuk menekan prevalensi stunting, serta angka kematian ibu dan bayi. “Kematian memang tidak bisa kita hindari, tetapi harus tetap berupaya mengurangi risiko kematian ibu dan bayi saat persalinan,” kata Bunda Lis –sapaan Lisdyarita– saat membuka koordinasi fasyankes itu.

Gelar pertemuan dan koordinasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) Pemkab menargetkan pada 2026 tidak ada lagi kasus kematian ibu dan bayi di Ponorogo.
Pun, upaya menekan angka stunting di Ponorogo melibatkan semua lini. Bahkan, mengerahkan tenaga kesehatan untuk jemput bola dengan mendatangi setiap rumah tangga yang memiliki anak balita stunting. Tanpa kecuali, mendata ibu hamil sesuai by name- by address berikut memantau perkembangan kandungan hingga selamat saat melahirkan bersama bayinya. “Juga memantau pertumbuhan bayi agar terhindar dari stunting. Seluruh upaya itu menjadi tanggung jawab bersama seluruh pihak, termasuk puskesmas dan rumah sakit,” ujar Bunda Lis.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti mengungkap data prevalensi stunting yanh terus turun selama tiga tahun terakhir. Dari angka 9,3 persen pada 2023 lalu, turun menjadi 8,06 persen pada 2024, dan tinggal 7,58 persen pada 2025.

Sedangkan angka kematian ibu pada 2025 sebanyak 8 kasus yang turun dari tahun sebelumnya 11 kasus. Demikian pula angka kematian bayi tercatat 96 kasus berbanding dengan tahun sebelumnya sebanyak 121 kasus.
Dyah Ayu berharap koordinasi fasyankes untuk membangun komitmen menekan angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan prevalensi stunting. Selain itu, berupaya untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Perlu komitmen seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di fasyankes untuk memberikan pelayanan terbaik,” jelasnya. (kominfo/wbi)