Laku Tirakatan dengan Tapa Bisu, Tradisi Masyarakat Ponorogo Sambut 1 Suro
MERAWAT tradisi masyarakat Ponorogo yang begadang semalaman setiap menyambut datangnya 1 Muharam. Panitia Grebeg Suro 2026 memfasilitasinya melalui Laku Tirakatan tepat pada malam pergantian Tahun Baru Hijriah, Senin (15/6/2026) tengah malam.
Laku Tirakatan itu menyatukan ribuan warga yang datang secara bergelombang dari empat penjuru Ponorogo dengan titik kumpul di alun-alun. Mereka berjalan kaki sambil membawa obor. Suasana khidmat tercipta bersamaan seluruh penerangan di lapangan besar itu diredupkan.
Menurut Bhree Heru Trimawan, ketua Pamong Wengker, peserta Laku Tirakatan bergerak dari titik start tepat pada tengah malam. Pemberangkatan menunggu acara penutupan Grebeg Suro di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo rampung serta lokasi steril.

“Laku Tirakatan ini bentuk perenungan, kontemplasi, sekaligus permohonan keberkahan dalam menyambut Tahun Baru 1448 Hijriah atau 1 Suro 1960 Dal dalam penanggalan Jawa,” kata Bhree Heru yang komunitasnya mendapat kepercayaan sebagai pengendali acara.
Menurut dia, peserta sengaja melakoni tapa bisu atau pantang berbicara selama berjalan kaki menuju alun-alun sebagai simbol pengendalian diri, ketenangan batin, dan kesungguhan dalam menjalani tirakat. “Bukan semata berjalan sambil membawa obor,” jelasnya.
Setelah Laku Tirakatan, rangkaian kegiatan berlanjut dengan jamasan pusaka masal hingga menjelang subuh. “Kami berharap generasi mendatang tidak hanya melihat tradisi ini sebagai seremoni tahunan, tetapi juga memahami nilai serta esensi yang terkandung di dalamnya,” ungkap Bhree Heru.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Agus Sugiarto menyampaikan bahwa Pemkab Ponorogo mendukung penuh penyelenggaraan aktivitas kebudayaan itu. Sebab, Laku Tirakatan bukan hanya merawat tradisi, melainkan juga menjadi media edukasi bagi generasi muda. “Laku Tirakatan akan menjadi tradisi masyarakat Ponorogo yang terus terjaga,” terangnya. (kominfo/wbi)