Disabilitas Pentaskan Reog Ponorogo, Bukti Kekayaan Budaya yang Kuat, Khas, dan Autentik
PENGAKUAN datang dari Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Dwi Marhen Yono atas kelas Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia. Petinggi di Kementerian Pariwisata itu terkagum-kagum saat menyaksikan para disabilitas netra mampu mementaskan kesenian reog secara utuh.
“Daerah yang memiliki kekayaan budaya seperti Ponorogo memiliki peluang besar untuk memanfaatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah,” aku Dwi saat hadir dalam penutupan Grebeg Suro di Alun-Alun Ponorogo, Senin (15/6/6/2026) malam.

Ya, anak-anak Suryo Netro Budoyo, grup reog binaan Polres Ponorogo, tampil apik di atas panggung. Kendati memiliki keterbatasan indera penglihatan, mereka mampu memainkan gamelan dan menarikan tokoh-tokoh reog dengan rancak. Aplaus panjang datang dari tetamu pejabat dan penonton ketika penghuni Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo menuntaskan penampilan di atas panggung.
Dwi Marhen meminta Pemkab Ponorogo menangkap peluang bersamaan pergeseran tren tujuan wisatawan mancanegara ketika melanglang dunia. Mereka kini lebih tertarik kepada kekuatan kultur budaya ketimbang menikmati keindahan alam. “Pengalaman budaya yang kuat, khas, dan autentik akan mereka dapatkan ketika mengunjungi Ponorogo dengan daya tarik kesenian reog dan pernak-perniknya,” terang Dwi Marhen.
Dia menambahkan, setiap wisatawan yang datang akan menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan. Nah, Ponorogo memiliki peluang besar untuk memanfaatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah. “Gencarkan promosi pariwisata dan gali potensi yang ada. Apalagi, Ponorogo sudah masuk Jejaring Kota Kreatif UNESCO,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Lisdyarita mengamini Reog Ponorogo memiliki nilai jual tinggi menarik wisatawan mancanegara. Syarat sebagai budaya yang kuat, khas, dan autentik sudah terpenuhi semuanya. Belum lagi, Reog Ponorogo bersifat universal karena para disabilitas netra mampu memainkannya. “Kita juga punya grup reog perempuan sebagai bukti kesenian khas ini benar-benar mengakar di tengah masyarakat Ponorogo,” ungkap Bunda Lis –sapaan Lisdyarita.
Pun, gelaran Grebeg Suro setiap tahun dengan Festival Reog Remaja (FRR) dan Festival Nasional Ponorogo (FNRP) sarat mengusung pesan pelestarian budaya. Event tahunan yang selalu menandai pergantian Tahun Hijriah itu memiliki potensi tinggi mengundang wisatawan mancanegara datang ke Ponorogo. “Membuka jalan menuju kemajuan daerah,” pungkasnya. (kominfo/wbi)